Aku melangkah di koridor, masih lumayan sepi hanya ada beberapa siswa-siswi yang sudah datang. Sepertinya aku datang terlalu pagi.

Aku terperanjat saat ada seseorang yang menarik tanganku dengan kuat dan menyeretku dengan kasar ke belakang sekolah.

"Lepasin." Aku berteriak dengan sangat keras dan mencoba melepaskan tanganku dari cekalan orang tersebut.

"Diem."

Aku kenal dengan suara orang itu. "Kak Malvin," kataku.

"Diem," katanya dengan membentak dan terus menyeretku.

"Lepasin." Aku mencoba melepas tanganku dari cekalannya. "Tolong!" teriakku.

Kak Malvin membekap mulutku dan masih terus menyeretku di sepanjang jalan setapak di belakang sekolah, hingga tiba di parkiran belakang sekolah yang sangat sepi, aku didorong untuk masuk ke dalam sebuah mobil putih.

"Bukain, aku mau keluar." Aku mencoba membuka pintu mobil yang terkunci.

"Gue bilang diem," bentak kak Malvin.

Kak Malvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar sekolah.

Aku merogoh ponselku di saku jaketku berusaha untuk menghubungi seseorang yang bisa menolongku. Belum sempat aku membuka ponselku, tangan kak Malvin lebih dulu mengambil ponselku dan menyimpannya di saku seragamnya yang tertutupi oleh jaket.

"Balikin ponselnya." Aku memukul lengan kak Malvin berkali-kali.

"Jangan harap lo bisa ngambil ponsel lo."

"Kita mau kemana? Aku nggak mau ikut kakak," kataku dengan suara yang bergetar.

Sepanjang perjalanan aku berusaha untuk keluar. Aku  menangis dalam diam, aku sangat takut. Aku berharap akan ada seseorang yang menolongku.