Aku mengerjapkan mataku, menyesuaikan cahaya lampu yang menyapa mataku. Aku melihat sekelilingku. Ruangan rumah sakit. Tidak ada siapapun di sini, hanya ada aku.

Selang infus terpasang di sebelah tanganku. Sekujur tubuhku rasanya sangat sakit semua.

Aku terdiam dengan pikiranku berkelana mengingat kejadian yang sangat buruk di hidupku. Aku menatap keluar jendela, gelap, sudah malam.

Beberapa saat pintu ruangan terbuka menampilkan seorang lelaki yang masih muda dengan pakaian dokter dan di belakangnya terdapat seorang suster.

"Kamu udah siuman? Syukurlah," kata dokter tersebut dengan wajah kagetnya.

"Saya periksa dulu ya."

Dokter tersebut memeriksaku.

"Kamu masih butuh waktu untuk pulih, jangan banyak bergerak karena beberapa bagian tubuh kamu mengalami cedera, badan kamu juga masih sangat lemas, banyakin makan dan minum air putih biar cepet pulih," kata dokter tersebut dengan tersenyum.

"Ada kontak keluarga yang bisa dihubungi?" tanya suster.

Aku terdiam beberapa saat, jadi belum ada yang tau jika aku di rumah sakit, pasti mama dan papa cemas mencariku.

"Dek? Ada kontak yang bisa dihubungi? Karena dari tadi kami tidak bisa menghubungi keluarga kamu,"

Aku mengangguk dan menyebutkan nomor telepon rumahku.

"Saya hubungi keluarga kamu dulu ya." Suster berjalan keluar ruangan.

Aku menghembuskan nafasku pelan.

"Kenapa kamu bisa kayak gini?" tanya dokter dengan duduk di kursi sebelah ranjangku.

Aku menggeleng pelan, air mataku jatuh saat teringat kejadian buruk yang menimpaku.