Aku melahap buburku dengan tak semangat. Aku terus kepikiran Rega. Dia sama sekali tidak menjengukku atau menghubungiku.

"Aku udah kenyang ma."

"Sayang, belum lima sendok kok udah kenyang. Satu sendok lagi ya, biar kamu cepet pulih."

Aku menggeleng.

"Permisi."

Aku tersenyum melihat siapa yang datang. Tiara, Sila, Leo, dan Farhan. Aku masih menatap ke pintu menunggu sosok yang aku rindukan juga datang. Aku berharap Rega juga datang menjengukku, tapi harapanku sirna, dia ternyata tidak ikut datang.

"Kalian datang?" tanya mama dengan tersenyum.

"Iya tante," jawab Sila.

"Kalau gitu tante keluar sebentar, tolong kalian temenin Shiren ya," kata mama yang kemudian melangkah pergi.

"Lo kenapa jadi kayak gini Ren?" tanya Tiara.

"Gapapa kok," jawabku dengan pelan.

"Apa yang terjadi sama lo?" tanya Sila.

Aku menggeleng pelan, rasanya sangat sesak mengingat kejadian buruk itu.

"Rega nggak ikut?" tanyaku dengan parau.

"Nggak usah mikirin Rega, kan ada kita," kata Leo dengan candaannya yang terasa garing dan tidak seperti biasanya.

Mereka menutupi tentang Rega kepadaku.

"Aku kangen Rega," kataku dengan terisak.

Tiara mengelus bahuku pelan.

"Aku nggak berduaan sama kak Vino, kalian percaya aku kan?"

"Shiren, kita tau banget lo kayak gimana, kita nggak percaya sama berita yang ngada-ngada itu walaupun awalnya kita sempet percaya dan sempet nyudutin kak Vino," kata Sila.

"Maafin kita Ren, kita nggak berhasil ngeyakinin Rega buat nggak percaya sama berita itu," kata Leo.