Aku bersandar pada ranjang kamar rumah sakit dan disuapi mama dengan sayur sop.

"Enak?" tanya mama.

"Hambar." Aku tertawa pelan.

"Namanya juga makanan rumah sakit," kata mama.

Aku meringis.

"Nah gini dong makan sampai habis." mama menaruh mangkok kosong di atas laci meja dan mengambil segelas susu sapi. "Minum dulu."

Aku menyedot susu sapi hingga tinggal setengah gelas. "Aku mau ke taman boleh ya?" tanyaku saat selesai sarapan.

"Boleh sayang. Matahari pagi juga baik buat kamu," kata mama.

"Papa bantuin ya." Papa mengangkatku dan memindahkanku di kursi roda.

"Berat ya pa?"

"Enggak kok, kapan lagi papa gendong-gendong kamu kayak waktu kamu kecil dulu." papa tertawa pelan.

"Bisa aja deh papa. Mama sama papa mau keluar?" tanyaku.

"Mau ngurus kasus kamu, kayaknya besok udah sidang, semoga lancar ya," kata papa.

Aku mengangguk.

Papa mendorongku dengan kursi roda untuk ke taman rumah sakit.

Koridor rumah sakit sedikit ramai, semua orang menatapku dengan aneh dan kasihan, mungkin karena tubuhku yang penuh dengan perban.

"Mau di mana sayang?" tanya papa.