Hari ini aku pergi ke pengadilan, hari ini adalah sidang kedua atas kasusku, sidang pertama sudah diadakan tiga hari yang lalu. Kedua sidangku berjalan dengan lancar, kak Malvin, kak Mega, Reno, dan Claura akan dipenjara satu tahun lebih atas perbuatannya.

"Mereka ingin bicara," kata seorang polisi berkumis.

"Nggak boleh, Shiren harus segera kembali ke rumah sakit," kata papa sambil mendorong kursi rodaku untuk keluar ruang sidang.

Aku menahan tangan papa agar berhenti mendorongku. "Gapapa pa, mereka paling cuma mau ngomong sebentar," kataku.

"Nanti kamu diapa-apain lagi sama mereka," kata mama.

"Iya, mending jangan deh Ren, bahaya," kata Tiara.

"Mereka itu orang jahat Ren, nanti lo diapa-apain lagi, mending nggak usah deh," kata Leo.

"Cuma bentar, mereka nggak bakalan berbuat jahat lagi ke aku." Aku memberi peengertian kepada mereka.

"Yaudah, sebentar aja, kita tunggu di luar," kata mama.

"Jangan sentuh lagi anak saya," kata papa dengan penuh peringatan.

"Gue temenin ya," kata Sila.

Aku mengangguk pelan. Aku menatap kak Mega, kak Malvin, Reno, dan Claura yang berada di depanku. Wajahnya terlihat sendu dan pucat.

"Kita minta maaf," kata kak Mega.

"Aku udah maafin kalian sebelum kalian minta maaf ke aku," kataku.

"Bener kata lo, penyesalan emang di akhir," kata kak Malvin.

"Maaf banget, kita emang salah, pikiran kita pendek," kata Reno.

"Aku nggak nyalahin kalian, ini bisa jadi pelajaran buat kalian agar kalian bisa berpikir dulu sebelum bertindak dan nggak selalu mentingin ego kalian. Karena perbuatan kalian yang tanpa dipikir dulu itu ngerugiin orang lain yang nggak bener-bener salah dan imbasnya bakalan ke kalian sendiri. Dari kasus ini bisa jadi pelajaran buat kita semua, semoga nggak akan pernah terulang lagi."

"Kita bener-bener nyesel," kata Reno.

"Maaf," kata Claura.

"Perbaiki diri kalian," kataku.

"Yuk Ren." Sila mendorong kursi rodaku.

"Sil," panggil Reno.