Aku terdiam menatap Rega yang sedang tidur dengan kepalanya yang berada di atas ranjangku. Tante Rani dan juga om Tio baru saja pamit pulang.

Mama dan papa masuk ke dalam ruanganku.

"Rega?" tanya mama.

Aku mengangguk dan tersenyum.

Papa tersenyum lalu duduk di sofa.

"Seneng Rega kembali?" tanya mama yang berdiri di samping ranjangku.

Aku mengangguk. "Iya. Tante Rani sama om Tio juga baru dari sini jenguk aku."

"Oh ya? Tapi mama sama papa pas nggak ada." mama menghembuskan nafasnya pelan.

"Tuh aku dibawain buah-buahan." Aku melirik parsel buah yang berada di atas meja.

Rega terbangun dari tidurnya dan langsung terkesiap ketikan melihat papa dan mama. "Tante om." Rega bangkit dari duduknya dan langsung mencium punggung tangan mama dan papa secara bergantian. "Rega mau minta maaf, karena Rega udah percaya sama berita hoax dan nggak peduli sama Shiren, Rega juga minta maaf karena nggak bisa jaga Shiren dengan baik, saya nggak bakalan lagi kayak gitu dan saya akan selalu jaga Shiren," kata Rega yang berdiri di samping ranjangku.

Mama tersenyum. "Nggak usah minta maaf, udah kejadian juga, jadiin pelajaran aja ya kejadian kemarin biar nggak keulang lagi."

Rega mengangguk.

"Jaga anak saya baik-baik Rega dan selalu ada di samping anak saya, anak saya cinta banget sama kamu," kata papa.

"Ih papa," kataku.

Papa dan mama tertawa pelan.

"Aku kapan pulang? Udah bosen di sini terus, mau pulang," kataku.

"Besok udah boleh pulang kok, tapi nggak boleh masuk sekolah dulu ya," kata mama.

"Pengen masuk sekolah ma."

"Nunggu kamu pulih dulu baru masuk ke sekolah," kata papa.

"Tuh dengerin," kata Rega.

Aku mencebikkan bibirku.

"Rega udah makan malam?" tanya mama.

"Belum tante."