Aku duduk di kursi roda di dalam kamarku bersama mama.

"Kapan ma aku masuk sekolah?" tanyaku.

Sudah hampir satu bulan aku tidak masuk sekolah, tentu aku ketinggalan pelajaran jauh.

"Tangan kamu kan masih sakit masih belum boleh banyak gerak. Terus gimana nanti nulisnya? Kaki kamu juga masih sakit kan?"

Aku terdiam, benar kata mama. Dokter juga mengatakan jika butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat tangan dan kakiku normal kembali seperti semula.

"Nanti biar mama bicarain lagi ya sama pihak sekolah."

Aku mengangguk.

Ting tong ting tong.

Bel rumah berbunyi, sepertinya ada yang datang.

"Mama bukain dulu ya." Mama beranjak dari tempatnya.

Beberapa menit berlalu.

"Ada Rega nih," kata mama.

Aku menoleh ke arah pintu, Rega tersenyum menatapku.

"Hai! Baru pulang?"

Rega melangkah ke arahku dan bersimpuh di depanku. "Iya." Rega menatapku dengan wajah tak semangat.

"Kenapa lemes gitu? Capek ya?" tanyaku.

"Nggak semangat nggak ada kamu di sekolah."

"Kapten, harus semangat dong walaupun nggak ada aku, semangat ya!"

Rega tersenyum tipis dan mengangguk.

"Kok nggak langsung pulang?" tanyaku.

Rega menggenggam tangan kiriku dan mengelusnya. "Kangen ibu negara."

Aku tersenyum menatap Rega. "Kapten, boleh minta tolong?"

"Boleh dong, mau minta tolong apa?"

"Bantu aku ke atas kasur, punggungku capek."

"Sini aku gendong."

"Nggak usah gendong, berat loh aku."

"Enggak sayang." Rega mengangkat tubuhku dan menidurkanku di atas kasur.

"Makasih ya."

Rega mengangguk dan duduk di tepi ranjangku.

Novel akan diperbarui setiap hari. Kembalilah dan lanjutkan membaca besok, semuanya!