Lucky Rich CEO

Bab 22 Kemurahan Hati Bert

Bab 22 Kemurahan Hati Bert

"Tolong secepatnya kamu laporkan hasil meeting tadi," kata seorang lelaki yang berjalan di samping seorang wanita.

Meeting yang cukup memakan waktu, lebih lama dari biasanya. Banyak sekali yang mereka bahas dengan partner kerjanya, ditambah pro dan kontra yang terjadi. Untungnya terjadi dengan lancar tidak ada hambatan.

"Baik Pak, saya langsung kerjakan dan segera saya serahkan," ujar seorang wanita yang setia menemani di ruang meeting tadi.

Mereka tentu saja Bert dan juga Marini, Bert memang memandangi Marini sesekali saat meeting tadi. Menurutnya, Marini sedikit berbeda, seperti tidak ada semangat hari ini. Namun Bert mencoba untuk tidak peduli, jika ia peduli maka akan lebih susah melupakan Marini.

"Lupakan dia Bert! Nanti malam kau akan bertunganan," batin Bert mengutuk perasaannya sendiri.

Tapi Bert yakin, semakin lama perasaan itu akan hilang dan beralih untuk Julia. Walau bagaimana pun, Julialah calon istrinya, sedangkan Marini hanya sebagai Kakak ipar nantinya. Yang harus Bert lakukan adalah ikhlas.

Marini langsung memasuki ruangannya dan membuka laptop yang terletak dimejanya tidak berpindah. Sebisa mungkin dirinya fokus mengerjakan berkas ini, walau kegelisahan masih menyelimutinya. Semenjak kemarin dirinya menemani Bert untuk berbelanja, dari sana munculnya kegelisahan. Banyak juga pertanyaan dikepalanya, untuk siapa semua itu?

"Ahh ternyata banyak yang harus kukerjakan, apakah bisa menyelesaikannya? Jam 2 masih cukup lama," gumam Marini sambil membuka setiap lembaran tulisan itu. Memindahkan semuanya kepada file yang ada di laptopnya.

Marini dengan cepat mengerjakan tugasnya, walau sedikit lelah dan tentunya masih gelisah. Marini mencoba untuk tenang dan cepat menyelesaikannya, tidak lama akan ada meeting lagi dengan berbeda klien. Membolak-balikkan setiap lembaran itu, banyak yang Marini ketik.

Makan siang Marini abaikan, mungkin ia tidak memiliki mood yang bagus untuk makan siang hari ini. Jam ditangannya berbunyi, saat dilihat ternyata sudah pukul setengah dua siang. Waktunya Marini menyiapkan berkas yang di perlukan, sebenarnya Marini hanya tinggal mengecek kembali. Karena ia sudah menyiapkan tadi sekaligus.

"Semuanya siap, tinggal menunggu sebentar lagi."