Lucky Rich CEO

Bab 26 Kebimbangan Marini

Bab 26 Kebimbangan Marini

Angin malam menghembus cukup kencang, sudah dipastikan dingin menusuk ke kulit siapapun. Tidak banyak bintang malam ini, hanya bulan yang terang ditambah awan yang gelap. Suasana yang sangat pas untuk merenung, terdiam dan membedakan penat setelah seharian beraktifitas.

Seorang wanita sedang duduk di meja sambil menatap keluar jendela. Di depannya ada laptop yang menyala dan secangkir teh hangat. Tapi tatapan tidak terarah kepada laptop itu, melainkan keluar dan ntah apa yang ditatapnya.

Dari tatapanya banyak hal ia fikirkan malam ini, apalagi ditambah tubuhnya yang cukup lelah. Sayangnya banyak hal yang harus ia kerjakan dan harus diselesaikan juga malam ini. Dalam keadaan lelah seperti ini, tentu banyak tertunda karna kondisinya.

Wanita itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. Di dalam pikirannya banyak yang ia pikirkan, itu membuat kepalanya sedikit berdenyut. Bahkan pekerjaan yang ada di laptopnya pun belum ia sentuh sama sekali, hanya ia nyalakan saja.

"Jalan keluar satu-satunya adalah resign dari sana," gumam wanita sambil menopang dagunya.

Wanita yang sedang melamun itu adalah Marini. Setelah diantar oleh Erwin sampai ke apartemen, ia langsung membersihkan tubuhnya dan menyiapkan pekerjaannya. Namun setelah sudah siap semua di meja, Marini malah memikirkan hal yang tadi sore terjadi.

Perkataan Julia sangat terngiang di kepalanya, bagaimana tidak semua itu melihatnya dirinya. Walau bukan salah Marini, tapi dialah penyebab dari pertengkaran antara Bert dan Julia.

"Apa aku harus membuat surat itu sekarang?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Kedilemaan sedang menyerang Marini, antara harus menetap dan resign dari pekerjaannya sekarang. Jika dibilang ia masih membutuhkan pekerjaan ini, tapi ucapan Erwin terngiang ditelinganya.

Tapi ada benarnya dari ucapan Erwin itu, jika tidak ingin membuat suasana semakin buruk. Maka ia harus resign dari pekerjaannya sekarang.

"Lupakan sebentar," ucapnya dan langsung mengerjakan yang seharusnya ia kerjakan sedari tadi.

Dua laporan sekaligus yang harus Marini kerjakan dan harus selesai malam ini juga. Walau lelah tapi harus ia kerjakan hingga beres dan benar, agar tidak ada komplain. Sambil merevisi, Marini juga memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Lebih tepatnya harus memantapkan hatinya untuk resign sebagai sekretaris Bert.

Mungkin dengan cara itu bisa membuat Julia bahagia, karena Bert tidak akan meliriknya lagi. Saat sedang mengetik di laptopnya, ponsel yang ada di samping teh berbunyi. Di sana ada nama Erwin yang memanggil, Marini langsung mengangkatnya.