Bab 22 Janji

Xiaoling langsung berlari memeluknya agar dia tidak terjatuh ke tengah debu ini.

"Yinhu, kamu kenapa, jangan kagetkan aku!"

Kepanikan di mata Xiaoling berubah menjadi khawatir, Qinfeng sekarang ini terlihat sangat mengejutkan, seluruh badannya dipenuhi dengan darah.

"Tenang saja, tidak akan mati." Qinfeng berusaha berdiri dari pelukan Xiaoling sambil tersenyum, "dan juga, lain kali jangan panggil aku Yinhu, panggil aku Qinfeng." sudah menjadi Yinhu bertahun-tahun, Qinfeng sudah lelah, dia mau kembali menjadi dirinya lagi.

"Tapi di hati aku, kamu selamanya adalah Yinhu yang tidak takut apapun." ucap Xiaoling.

"Baik, kamu bilang apa aku akan ikuti, aku sekarang antar kamu ke rumah sakit." melihat tampang Qinfeng seperti ini, Xiaoling tidak membantahnya dan hanya menganggukkan kepalanya.

Qinfeng menggelengkan kepalanya, "tidak ke rumah sakit, antar aku ke Toko Hongliu." dia sekarang seperti ini, kalau pergi ke rumah sakit pasti akan muncul masalah yang tidak diperlukan.

"Tidak bisa, luka kamu separah ini, harus ke rumah sakit. Paling banyak aku akan antar kamu ke rumah sakit militer." Xiaoling sepertinya tahu Qinfeng sedang khawatir apa, maka dia memberikan saran lainnya.

Qinfeng mengerutkan alisnya dan menarik nafas dalam-dalam, "aku bilang pergi ke Toko Hongliu." dulu dan sekarang juga sama, tidak peduli dia bilang apa, Xiaoling tidak akan mendengarnya, ini membuat dia membesarkan suaranya.

Badan Xiaoling gemetar, seperti bisa mendengar rasa dingin dari nada suara Qinfeng.

"Kamu pulang saja, anggap kamu dari dulu tidak pernah bertemu dengan aku." Qinfeng berusaha lepas dari topangan Xiaoling, dan dia berjalan ke depan dengan sempoyongan. Di saat ini dia sepertinya mengingat kejadian masa lalu yang tidak menyenangkan dan membuat mukanya menjadi gelap.

Beberapa tahun sudah lewat, Xiaoling tetaplah Xiaoling, dari dulu tidak pernah berubah, walaupun rambut dia yang panjang sudah dipotong.

"Hehe." Qinfeng tertawa, bukankah ini hal yang sudah diduga.

Xiaoling terkejut, kedua matanya mengeluarkan air mata, dengan cepat dia langsung mengejar Qinfeng dan menuntunnya, "jangan memaksakan diri lagi, cepat naik mobil."

Qinfeng merasa kepalanya sedikit pusing, tapi dia tetap bersikeras, "pergi ke Toko Hongliu."

Sama seperti Xiaoling yang tetaplah Xiaoling, sifat Qinfeng juga tidak berubah sama sekali. Xiaoling percaya kalau dirinya mengantar Qinfeng ke rumah sakit, maka mungkin ke depannya dia tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Xiaoling juga pernah belajar teknik penyelamatan, seetelah diperiksa, dia merasa badan Qinfeng masih ada banyak luka tusukan, apalagi sekarang dia kehilangan darah terlalu banyak, Qinfeng harus segera melakukan transfusi darah. Xiaoling juga tahu Toko Hongliu, mereka masih bisa mengurus luka yang biasa, tapi mau menyembuhkan Qinfeng, Toko Hongliu tidak ada kemampuan dan peralatan itu.

Melihat Qinfeng sudah pingsan, Xiaoling tidak ragu-ragu lagi dan membuat keputusan yang besar di dalam hatinya.

Walaupun seperti ini akan membuat Qinfeng tidak senang, tapi tidak ada cara lain.