Married By Accident

Bab 46 Permintaan Maaf

Alana memandang sang ibu di depannya dengan perasaan bersalah. Ia tidak bermaksud untuk berbohong pada ibunya mengenai anak yang ia kandung sekarang. Ia tidak punya pilihan, ia pikir dirinya mungkin akan bisa menarik ulur lebih jauh kebohongan ini dan berkata pada keluarganya nanti setelah ia merasa waktunya tepat.

Dan sekarang, bukanlah waktu yang tepat bagi ibu dan adiknya tahu tentang kehamilan dirinya.

"Maafkan aku, Ma." Ucap Alana lagi tak berani menatap Diana.

Diana menatap rumit pada putri sulungnya yang kepalanya kini merunduk. Ia tidak menyangka jika putri yang ia banggakan ternyata hamil di luar nikah. Saat dia tahu tentang berita itu, ia merasakan seolah-olah baru saja di sambat petir. Ia tidak percaya pada awalnya, namun saat dia memutuskan untuk datang melihat kehidupan putrinya setelah menikah dan tidak sengaja melihat Alana dengan perutnya yang sedikit mengembung, ia akhirnya sadar bahwa apa yang berita itu gosip kan tentang putrinya merupakan kebenaran.

"Mama tidak menyangka kalau kau... Akan begini, Nak." Ujar Diana dengan suara sedih. Sebagai ibu, ia merasakan kecewa teramat berat mengenai Alana yang begini. Ia merasa bahwa sebagai penatua, ia gagal dalam mendidik putrinya. Ia merasa malu pada seluruh leluhurnya karena tidak bisa mengawasi putrinya dengan benar.

Megan yang duduk di sebelah sang ibu menatap iba pada kakak perempuannya. Walaupun itu hanya tebakan dangkal saja waktu itu, ia sudah bisa melihat segala keanehan yang kakaknya itu tunjukan padanya saat sang kakak pulang ke rumah.

Namun ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan dugaannya pada sang ibu atau pun bertanya langsung pada sang kakak apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak punya keberanian untuk ikut campur dengan masalah para orang dewasa. Jadi Megan menelan semua keragu-raguannya sendiri tanpa seorangpun yang tahu.

"Kakak, kami tidak menyalahkan dirimu. Bagaimana pun juga, pasti berat bagimu sudah menanggung ini semuanya kan." Ujar Megan menengahi. Ia mencoba bersikap netral dan tidak memihak siapapun sekarang.

Memang benar, berat sekali menanggung ini semua saat ia berjuang sendirian untuk mempertahankan rumah tangganya. Ia bertahan, berjuang membuat Zayn juga mencintainya tapi ia sadar membuat pria itu jatuh cinta padanya adalah hal yang mustahil.

Memikirkan percakapan antara Zayn dan sekretarisnya waktu itu kembali membuat air mata Alana mengalir deras. Dan Diana maupun Megan menganggap wanita itu menangis karena mereka yang marah dan kecewa padanya.

Diana mendekap tubuh gemetar Alana, menenangkan putrinya dari bersedih secara berlebihan.

"Maafkan aku... Maafkan aku, Ma. Maaf, membuatmu kecewa." Bisik Alana dengan suara bergetar. Megan memalingkan wajahnya dari melihat sang kakak melontarkan permintaan maaf berulang-ulang itu. Ia tidak tahan. Alana baginya merupakan sosok kakak perempuan yang sangat kuat dan juga tangguh. Ia adalah mercusuar keluarga mereka dan melihat kerapuhan yang kakaknya tunjukkan membuat Megan akhirnya sadar, kalau kakaknya itu tak sekuat kelihatannya.