Married By Accident

Bab 11 Permintaan Pernikahan

Alana tidak tahu bagaimana harus menghibur Melani yang sedih di ujung sana. Dia sama sekali tidak memiliki pengalaman mengenai percintaan mendalam seperti yang temannya itu rasakan.

Jadi dia tidak mengerti, apa yang Melani rasakan sekarang. Dalam sudut pandangnya sebagai seorang pengamat dan pendengar yang baik, sikap temannya sekarang itu terlalu berlebihan menurutnya.

Mereka sudah berpisah, yang artinya tidak lagi ada cinta di hati keduanya kan?

Namun mengapa, Melani terus bersikap seolah perceraiannya itu tidak dia inginkan sama sekali. Bahwa sikapnya yang panas dingin terhadap mantan suaminya itu cuma kebohongan yang coba wanita dewasa itu perlihatkan sebagai tameng. Bukankah jelas-jelas, pihak dari Melani sendirilah yang mengusulkan sebuah perpisahan ini.

Alana sungguh-sungguh tidak paham dengan cinta yang mereka maksud. Mengapa persoalan cinta demikian rumitnya?

Jadi Alana menghindar pembahasan mengharu biru ini, dia mencoba setidaknya jika dia terdengar bahagia, Melani akan tertular juga.

"Kau sudah makan, Mel?" Alana bertanya sambil melanjutkan sarapannya yang tadi tertunda.

Melani yang duduk sendirian di depan kamar rawat Adnan kemudian melirik pada bungkus makanan yang tadi dia beli di kafetaria rumah sakit.

Yang Alana salah pahami mengenai suara musik jazz yang tadi didengarnya adalah suara musik tersebut berasal dari kafetaria rumah sakit, dimana tadi Melani dari sana. Bukan seperti yang Alana pikirkan.

Menghela napas pasrah, Melani berbohong, 'sudah baru saja. Apa yang sedang kau lakukan, Alana?' Tanyanya kemudian.

"Sarapan, dan sudah selesai. Hari ini aku libur kerja." Cicit Alana malu-malu.

'Kenapa? Bukannya libur kerjamu sudah berakhir?' Tanya Melani kebingungan.

Seperti bagaimana Alana jika dilanda gugup, wanita itu akan tanpa sadar merunduk, menatap pada jari kakinya. Apakah dia harus memberitahu Melani kalau dia tidak berangkat bekerja karena ingin menghindari Adrian? Sepertinya tidak.