Married By Accident

Bab 13 Pernyataan Cinta

Minggu ke-tiga sejak Alana menghindari Adrian. Alana terus bersembunyi selama dia kembali bekerja. Adrian juga tidak lagi mencarinya setelah itu. Akan tetapi Alana tidak bisa percaya bahwa laki-laki egois seperti Adrian akan menyerah begitu saja.

Dan terbukti. Tebakan Alana mengenai Adrian yang tidak menyerah mencarinya. Karena sekarang pria itu sedang berdiri di depan kamar kostnya.

Kecuali Tiffany dan Yuki, tidak ada siapapun yang tahu alamat tempat tinggalnya. Bahkan, alamat yang dia berikan pada hotel tempatnya bekerja, merupakan alamat dari tempat kostnya yang dulu.

Melani dan Alana sepakat untuk pindah tempat karena jarak tempuh dari tempat kost ke tempat kerja yang lumayan jauh. Itu sebabnya, mereka mencari tempat tinggal yang lebih baik bangunannya sekaligus lokasinya yang strategis.

Alana belum memberitahu atasannya mengenai tempat tinggal baru ini. Maka itu, Alana tidak berpikir jauh saat tadi dia di kejutkan oleh bel yang terdengar berbunyi. Karena dia mengira kalau itu mungkin Tiffany atau Yuki yang datang, Alana tidak melihat pada layar intercom yang terpasang di dinding.

Dia langsung membuka pintu dan terkejut melihat tamu yang tidak dia sangka akan datang ke tempat tinggalnya, merupakan laki-laki yang tidak mau dia temui lagi.

Adrian!

Seorang teman di tempat kerja dan seseorang yang menjebaknya dengan minuman berisi afrodisiak. Seorang pria yang dia hindari dengan susah payah. Tapi, pada akhirnya laki-laki itu berdiri di depannya.

Mereka kembali bertemu dengan kecanggungan dari pihak pria dan amarah dari pihak wanita.

Menyadari siapa orang itu, Alana menutup pintu dengan keras, tapi sebuah kaki yang terulur menghentikan pintu itu dari tertutup rapat.

Alana menatap dengan mata dingin pada kaki Adrian yang kini mengganjal pintunya agar tidak menutup.

"Alana." Panggil Adrian dengan raut wajah di penuhi rasa bersalah. Melihat dengan mata kepalanya sendiri kebencian yang terpasang di wajah wanita itu membuat jantungnya terasa berdenyut sakit.

"Pergilah." Usir Alana tanpa basa basi. Dia bahkan terlalu muak untuk sekadar melihat pada Adrian. Tatapannya terus tertuju pada dinding di belakang Adrian.

"Alana, bisakah beri aku kesempatan untuk bicara padamu." Mohon Adrian bersungguh-sungguh.