Married By Accident

Bab 19 Menikahlah Denganku

"Apa kau berkata ingin melupakan apa yang sudah kita bagi malam itu?!"

Alana terkesiap, tidak mengerti, dia menatap mata Zayn yang berkobar tak suka dan Alana tidak tahu dimana dia mengatakan salah pada pria ini.

Zayn menjepit Alana di sandaran sofa, tidak membiarkan wanita itu bergerak kemanapun. Suhu badan Alana yang hangat ditransmisikan ke tangan Zayn, pria itu sedikit melonggarkan cengkeramannya. Dengan jarak sedekat itu, Zayn dapat melihat dengan jelas wajah Alana yang mulus. Selain wajah itu di balut dengan rona merah akibat demam, tidak menghilangkan kecantikan wanita itu sendiri.

Berlama-lama Zayn memandang Alana, sampai membuat wanita itu risih. Alana kemudian mendorong pria itu dari atas tubuhnya, tapi tidak bisa, perbedaan kekuatan mereka membuat Alana sama sekali tak berkutik.

"Bisa tolong lepaskan capitan anda. Tolong, jaga jarak." Ucap Alana tak nyaman. Walau begitu dia tidak punya pilihan lain selain mendorong Zayn menjauh dari dirinya. Bukan apa, Alana sama sekali tak bisa mengontrol degup jantungnya sendiri jika berdekatan dengan pria pembawa feromon berjalan ini.

Bagaimana pun Alana seorang wanita yang normal, yang bisa mengagumi wajah seseorang karena kecantikan atau ketampanannya. Dan Zayn memiliki itu, wajah rupawan yang mampu melumpuhkan tubuh. Kalau tidak, bagaimana bisa dia dengan mudah terpengaruh oleh kehadiran laki-laki ini sekarang?

Zayn bergeming, sepasang matanya berubah gelap saat dia ingat rasa dari mencicipi mulut kecil ini. Sangat nikmat dan dia menyukainya. Sepertinya dia memang tidak bisa membohongi dirinya sendiri lagi, jika saat ini hanya berdekatan dengan Alana saja sudah membuat dia ingin menindih wanita ini dan menidurinya di bawah treotorinya sendiri.

"Jangan pernah katakan kalau kau akan melupakan malam itu, Alana. Jangan. Aku tidak mengijinkan mu melupakan malam pertama kita." Bisik Zayn mencondongkan wajahnya dan berkata di telinga Alana.

"Kenapa?" Tanya Alana bingung. "Kenapa aku tidak boleh melupakannya?" Tak tahukah pria ini kalau malam itu merupakan penyesalan terbesar dirinya sampai saat ini. Jika dia tidak melupakannya, bagaimana dia harus hidup? Hanya dengan mengingat kalau dia susah tidak perawan lagi membuatnya tak sabar ingin mati.

Zayn menangkup kedua pipi Alana, tatapannya berubah lembut, "Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi mu, Alana." Ucapnya serius.

Alana mengerjap, tak mampu berkata-kata, dia pasti bermimpi. Pikir Alana. Kalau tidak, siapa yang bisa memberitahunya apa yang baru saja pria ini katakan.