Married By Accident

Bab 33 Penerimaan

Melani berdiri di dekat jendela ruangan kantornya. Telepon genggam ia pegang di dekat telinga, masih terhubung dengan Alana.

Ia sangat terkejut. Benar-benar terkejut mendapati temannya banyak sekali menyimpan rahasia kepadanya. Ia kira hubungan mereka sangat dekat, begitu dekat sampai batas di mana rahasia sekecil apapun akan mereka bagi. Namun nyatanya tidak. Ia salah sejak awal.

Tidak dipungkiri kalau ia merasa kecewa pada Alana, menyembunyikan rahasia sebesar itu, ia benar-benar kecewa.

Wanita itu pun menghela napas lemah, "Bagaimana sekarang kandungan mu, Alana. Apakah baik-baik saja?"

Alana yang kini duduk di atas tempat tidur, mengelus perut ratanya dengan tidak nyaman, "Aku terus muntah. Tidak bisa mencium bau makanan apapun. Makan pun juga harus pilih-pilih."

"Tidak apa-apa, itu wajar bagi ibu hamil. Biasanya, kalau kau lebih awal merasakan muntah untuk ke depannya tidak akan serewel itu. Dulu pun aku juga begitu. Coba kau lebih banyak makan buah-buahan."

"Sudah juga."

"Jadi kapan kau akan menikah?"

"Zayn bilang itu satu bulan lagi. Tanggal 21 Mei."

"Yah, itu bagus. Setidaknya kehamilan mu tidak terlalu kelihatan."

"Ya, Mel. Emm... Itu, aku mungkin tak akan pulang ke apartemen kita. Kakek, maksud ku kakeknya Zayn menyuruhku untuk tinggal di sini. Untuk membiasakan diri beliau bilang."

"Aku akan membantumu membereskan semua barang-barang mu nanti."

"Jangan. Tidak apa-apa, biar aku saja yang melakukannya." Tolak Alana tak enak. Bagaimana mungkin ia menyuruh temannya itu untuk membereskan barang-barangnya.

Zayn masuk ke dalam kamar dengan memakai pakaian casual. Rambutnya sedikit lembab, dan wajahnya yang tampan nampak cerah dan segar. Begitu ia berdiri di dekat ranjang di sebelah Alana. Alana menghirup udara dengan nyaman.

Wanita itu pun mengalihkan matanya, menatap Zayn yang kini juga memandangnya dengan alis berkerut.

"Kau wangi." Ucap Alana jujur. Saat Zayn datang, aroma segar mint dan jeruk langsung tercium. Itu sangat menenangkan perutnya yang tadi tak nyaman.