One More Time

Bab 34 Kau Memanggilnya Apa Barusan ?

Bab 34 Kau Memanggilnya Apa Barusan ?

"Linny, sebaiknya kau tidak berkata-kata seperti menyalahkanku seperti itu, aku juga tidak ingin ia mengalami hal semacam ini."

Emosi Nelson sedang tidak stabil, tapi karena Linny adalah teman Samantha, saat ini ia sedang berusaha keras menahannya.

Tapi Linny justru berkata tanpa perasaan, "Kau tidak menginginkanya? Untung saja kau tidak menginginkannya, kalau kau ingin, mungkin Kelselyn saat ini akan sama seperti Samantha lima tahun yang lalu, terbakar hidup-hidup karenamu."

"Linny!" Nelson seperti mau meledak, matanya merah.

Seluruh Manado tahu, Samantha adalah larangan bagi Nelson, selain Linny, tidak ada lagi yang berani menyebut nama Samantha di hadapannya, apalagi tentang kebakaran itu, namun kini Linny tanpa sengaja sedang menantang pertahanan terakhir Nelson.

Melihat Nelson yang hampir kehilangan kontrol, Sean berkata datar, "Mami alergi chepalosporin."

"Apa?" Nelson tidak mendengar jelas bagaimana Sean memanggil Samantha tadi, ia hanya mendengar kata ??chepalosporin??.

"Kau tadi bilang chepalosporin? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"

Ia tidak pernah tahu Samantha alergi chepalosporin, ia hanya ingat Samantha jarang demam, dan ketika demam ia hanya akan banyak minum air, sangat jarang minum obat.

Sebelumnya ia menganggap Samantha begitu manja, atau ingin memanfaatkan kondisi ini untuk menarik perhatiannya, awalnya ia hanya menertawainya, namun belakangan ia pun jatuh hati, tapi ia hanya menyuruh pembantu rumahnya membuatkan air jahe dan menyuruhnya minum saja.

Menjadi suami istri selama beberapa tahun, sebagai orang yang satu ranjang dengannya, ia bahkan tak tahu kalau istrinya itu alergi chepalosporin!

Nelson merasa begitu kacau dan menyesal, perasaannya berkecamuk, seakan-akan begitu liar, rasanya ia ingin merobek jantungnya sendiri.

Namun Linny tidak bersimpati padanya. "Mengapa kami harus memberitahu Tuan Nelson Kelselyn alergi apa? Tuan Nelson siapanya Kelselyn?"

"Linny, sebaiknya kau tutup mulut sebelum kesabaranku habis, kalau tidak??"

"Apa? Kau akan menggunakan kekuasaan dan keududukanmu, lalu memperlakukanku sama seperti Samantha lima tahun lalu?" Linny semakin mengamuk tanpa berusaha menutupinya.

Begitu teringat akan kesakitan yang diderita Samantha lima tahun lalu, rasanya ia ingin merobek pria di hadapannya itu dengan tangannya.

Mata Nelson merah karena marah, ia maju selangkah dan berkata, "Menurutmu aku tidak berani?"

"Cukup! Keluar saja kalau kalian mau bertengkar!" Tiba-tiba Sean berteriak marah.

Suaranya yang nyaring itu menggelegar di seluruh ruangan.