One More Time

Bab 35 Ayah Angkat Adalah Pria Terhebat Di Dunia

Bab 35 Ayah Angkat Adalah Pria Terhebat Di Dunia

Wangi susu yang lembut mengembalikan kesadaran Nelson, ia menatap bakpao kecil di hadapannya, hatinya sangat kacau, untuk sesaat ia tak tahu harus mengatakan apa.

Sean juga tidak berbicara, ia hanya duduk diam di sampingnya, seakan-akan hanya ingin mencari tempat untuk duduk saja, tanpa peduli siapa yang duduk di sebelahnya.

Tapi Nelson menyadari perasaan di hatinya bukanlah perasaan gembira.

Ryu juga berumur 4 tahun, tapi Ryu hidup dengan bebas, bahkan sedikit keras kepala, ketika ia senang ia bisa tertawa-tawa, ketika ia sedih ia bisa menangis tersedu-sedu.

Bertolak belakang dengan Sean, ia selalu telihat tenang tidak seperti anak-anak.

Kesan pertama dari Sean yang ditemuinya di toilet bandara waktu, Sean yang memohon padanya sambil berlutut, dengan wajah yang lebih mirip bunga mekar itu, sangat berbeda dengan Sean yang ada di depan matanya kini.

Kehidupan macam apa yang telah membentuk Sean menjadi karakter seperti ini? Kalau memang dia adalah anaknya, maka kepahitan macam apa yang telah dialaminya bersama Samantha lima tahun ini?

Berbagai pertanyaan timbul dalam hati Nelson, tapi ia tetap tak tahu bagaimana harus mulai berbicara.

Di tengah kebingungannya, Sean angkat bicara. "Kenapa mamiku bisa terluka?"

Nelson tercenung sejenak, lalu berkata pelan, "Ada masalah di sistem keamanan mobil itu, mamimu adalah desainer mobil perusahaan kami, terjadi kecelakaan ketika ia melakukan test drive, aku bertanggung jawab atas hal ini, salahku tidak memeriksa keamanan mobil itu terlebih dulu, maaf."

Dia adalah seorang pembesar di Manado, konglomerat tingkat atas di kota itu, seumur hidupnya jarang sekali ia meminta maaf pada orang lain, tapi saat ini di hadapan Sean, seorang bocah berumur empat tahun, kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Setelah mengatakannya, hatinya semakin berat, ia bahkan ingin merangkul Sean ke dalam pelukannya, tapi akhirnya ia tidak melakukannya, ia hanya membalas tatapan Sean tanpa berkata-kata.

Sean tidak bisa menembus isi hati Nelson dari sorot matanya, apakah ia berbohong atau tidak. Dia memang masih kecil, masih tidak dapat membedakan maksud hati seseorang, tapi yang pasti hatinya penuh amarah. "Begitu cerobohnya kau ketika meminta orang mencoba mobilmu? Atau kau sengaja melakukannya?"

"Mengapa aku harus sengaja melakukannya?" Nelson dengan peka menangkap nada kebencian dari Sean.

Anak ini membencinya! Meskipun ia berusaha keras menyembunyikannya.

"Karena kau??"

Hampir saja Sean mengatakannya, bahwa ia melakukannya karena ia tidak suka pada mami, tidak suka padaku! Kau pasti ingin mami dan aku mati kan?

Tapi ia berhenti ketika kata-kata itu telah sampai di ujung bibirnya.

Seperti jengkel dengan ketidakmampuannya sendiri, ia pun mengalihkan kepalanya membelakangi Nelson, sikapnya itu justru membuat hati Nelson luluh.

"Karena aku apa? Suara Nelson pelan-pelan melembut.

Namun Sean justru tak menghiraukannya, ia berdiri dan berkata dengan dingin, "Lebih baik cepat tinggalkan tempat ini, kalau mamiku bangun ia pasti tidak ingin bertemu denganmu."

"Aku ini atasan tertinggi mamimu."

"Aku bisa minta mami mengundurkan diri."