Simfoni Takdir

25. Dia, Kembali

Ambil baiknya, buang buruknya

Jangan ngejudge suatu cerita sebelum kamu mebacanya sampai tamat

Selamat Membaca

.....

Aku ingin berhenti dan kembali, namun hatiku telah memberi jawaban bahwa aku harus berjuang melangkah ke depan.

......

"Tadi, tadi dia ke sini, Kak."

Azia mengerutkan kening.

"Dia siapa?"

"A Rama. A Rama ke sini." Tangisan Haura semakin mengencang. Tidak ada yang bisa ia rasakan saat ini selain kebimbangan yang luar biasa. Di tengah kebahagiaan itu datang, di 5engah hatinya sudah terbuka untuk Ariel, masalalu itu kembali. Haura merasa ada sebuah benda seperti magnet yang menariknya kuat untuk kembali ke belakang.

Apa yang harus ia lakukan saat ini? Kehidupannya sekarang memang berada dalam kebahagiaan, tapi kehadiran Rama yang begitu mendadak seolah membuat pertahanannya itu goyah seketika. Kembali untuk Rama atau tetap melanjutkan kehidupan dan mengubur cinta sejatinya itu untuk selamanya.

"Saat kecelakaan itu, A Rama bertemu sama saudara kembarnya. Namanya Alfi. Dulu, mantan kekasih om Aryo sudah menculik kembaran A Rama. Perempuan itu berharap agar tante Sandra dan om Aryo bertengkar dan bercerai. Tapi ternyata usahanya gagal. Cinta om Aryo dan tente Sandra itu sangat kuat sehingga mereka tidak bisa dipisahkan. Perempuan itu kebingugan dan tetap memilih untuk merawat Alfi. Saat Alfi dewasa, dia menceritakan semuanya hingga Alfi berhasil menemukan A Rama. Meski pertemuan itu cuma sebentar."

Azia masih sangat terkejut. Pengakuan Haura barusan serasa di luar akal sehat.

"Terus apa yang bakal kamu lakuin?"

"Aku nggak tau, Kak. Jujur, aku masih cinta banget sama A Rama. Bahkan aku bingung, aku ini masih istri dia atau bukan. Kalau aku masih istri dia, apa yang harus aku lakuin? Aku nggak mungkin punya dia suami sekaligus."

"Itu artinya kamu harus menceraikan salah satu diantara mereka, Ra."

Haura diam dengan ekspresi tak terbaca. Sanggupkah ia kehilangan Rama untuk kedua kalinya?

"Saran Kakak, mending kamu tetap memilih apa yang saat ini sudah kamu miliki. Kalau kamu memilih Rama, bagaimana dengan Aira? Dia masih kecil kalau harus melihat orang tuanya bercerai. Mungkin Rama memang bisa memberikan kasih sayang seorang ayah, tapi Aira belum tentu bisa menerimanya. Terlebih, anak kamu itu dekat dengan Ariel. Atau kamu bisa setega itu memisahkan Ariel dan Aira?"

"Aku bingung, Kak. Aku benar-benar bingung. Aku, aku masih cinta sama A Rama." Haura menundukkan kepala. Menangis adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan.

"Tidak usah bingung, Haura."

Sontak keduanya memalingkan pandangan ke sumber suara. Di sana, Ariel berdiri dengan wajah merah dengan mata berkaca-kaca. Di tangannya ada sebuket bunga kesukaan Haura. Bunga yang ia beli dengan penuh rasa gembira, berharap perempuan yang akan menerimanya membalsa dengan sebuah pelukan. Tapi, harapan Ariel hanya angan-angan.

Dengan langkah gontai, Ariel meletakkan bunga itu di samping Haura.