Bab 57 Moral

Yang Luo terkejut, tidak tahu harus tertawa atau menangis, "Kamu seorang pria besar kenapa tiba-tiba menangis?! Cepat hentikan!"

Wang Hu menyeka air matanya dan tersenyum, "Ya!" Begitu dia mengatakan ini, dia melepaskan dirinya dari tangan Yang Luo dan berjalan sendiri.

Yang Luo mengangguk dengan puas. Anak ini memang hebat!

Setelah berjalan beberapa puluh meter, kelelahan Wang Hu yang luar biasa akhirnya hilang. Yang Luo menatapnya, berjalan sambil berkata, "Wang Hu, terakhir kali kamu dan saudara lainnya mengatakan bahwa kalian ingin ikut denganku, aku belum memberi jawaban yang jelas untukmu, apakah kamu tahu alasannya?"

Wang Hu terkejut, dia tahu Yang Luo pasti akan mengatakan sesuatu yang penting, dia dengan terburu-buru berkata, "Kak Luo khawatir bahwa kita tidak mampu, dan memalukanmu?"

"Memalukan kepalamu!" Yang Luo memarahinya, "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan selalu berhasil, selain itu, kemampuan bisa dilatih dan itu bukan kuncinya."

Wang Hu bertanya-tanya, "Lalu apa kuncinya?" Ini adalah pertama kalinya dia mendengar teori ini, kalimat yang paling sering dia dengar dulu adalah "yang lemah akan selalu kalah dari yang kuat", orang yang paling kuat adalah bos, dan teori ini tidak akan pernah berubah.

"Kuncinya adalah apakah kamu memperlakukan seseorang dengan tulus." Yang Luo dengan tulus berkata, menunjukkan kedewasaannya yang tidak sebanding dengan usianya, "Aku Yang Luo tulus kepada saudaraku, jadi aku tidak ingin saudaraku bepura-pura kepadaku, mengerti?" Dia mengatakan kalimat terakhir dengan tegas.

Wang Hu terkejut, dan berteriak, "Kak Luo, kamu tenang saja, aku Wang Hu hanya akan melakukan ini sekali, aku tidak akan melanggar perintahmu lagi! Jika aku melanggar perintahmu, kamu boleh potong kepalaku dengan pisau, aku tidak akan pernah mengeluh!"

Wajah kaku Yang Luo akhirnya tersenyum, dan bersenandung, "Untuk apa memakai pisau untuk memotong kepalamu? Ayo jalan! Kalau kita tidak segara pergi semua makanan akan segera habis, jika aku kelaparan malam ini, maka aku akan menghabiskanmu!"

Wang Hu tersenyum dan berjanji dengan keras. Di bawah matahari terbenam, keduanya berjalan ke luar stasiun, bayangan mereka memantul di tanah dan pelan-pelan menghilang.

Tidak jauh dari Sekolah Seni Bela Diri Qihang ada street food, tidak hanya restoran kecil yang sering dikunjungi Lin Yue, tetapi juga banyak restoran hot pot kelas menengah. Pada malam hari, suasana di sini hangat, toko-tokonya berkembang samgat pesat, meja dan kursinya bahkan diletakkan di jalanan, hingga menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Yang Luo dan Wang Hu tiba di street food, mereka mencari lokasinya sesuai dengan petunjuk Fang Kuan, datang ke restoran "Hot Pot Shu Jiao", baru saja masuk, seorang pelayan wanita tersenyum, "Maaf, tolong ambil nomor dulu, sekarang adalah waktunya jam makan malam, kami sedang penuh, tolong tunggu sebentar, jika sudah ada meja yang kosong aku akan segera memanggil kalian."

Yang Luo melihat dia cantik, dia tersenyum dan berkata, "Kita sudah pesan tempat duduk."

Pelayan berkata, "Maaf, silahkan masuk, apakah itu ruang pribadi atau ruang umum?" Yang Luo melihat sekeliling dan dengan segara melihat sekelompok besar siswa di sudut, pada saat dia ingin mengatakan "sudah ketemu" tiba-tiba suara teriakan dari samping terdengar.

Dia terkejut dan berbalik, dia melihat pelayan menutupi bokongnya dengan wajah memerah, dan menatap Wang Hu dengan marah.