Special Forces Di Metropolitan

72 Benaran Segitu Enak, Kah?

Bab 72 Benaran Segitu Enak, Kah?

------------

Polantas itu berusia sekitar dua puluh lima atau dua puluh enam tahun. Wajahnya heroiknya yang tertegun berkata, "Keadaan darurat apa?"

Yang Luo segera menariknya ke sisi samping pengemudi. "Aku baru saja pergi untuk menjemput istriku dan pria yang berlumuran darah ini tiba-tiba jatuh dari sebuah bangunan kecil. Aku ingin membawanya ke rumah sakit, tapi aku tidak akrab dengan jalanan di sini, tidak tahu di mana ada rumah sakit. Pak polisi, kumohon padamu. Jika terlambat, orang ini kemungkinan akan mati!"

Polantas itu memandang kepala Wu Qingyue yang terluka parah dan mencoba memanggilnya dua kali. Melihat Wu Qingyue tidak menanggapinya, sang polantas juga menjadi cemas dan segera berkata, "Kamu naik dan ikuti saku. Aku akan membuka jalan untukmu!"

Yang Luo segera berterima kasih padanya, lalu naik mobil dan mengikuti motor sang polantas. Pak polantas itu menyalakan sirene polisi, membawa mobil Carolla mengemudi di jalur bus dengan kecepatan tinggi, berbelok ke jalan utama lainnya. Setelah berjalan jauh, Rumah sakit rakyat, rumah sakit terbagus pertama, telah muncul di hadapannya.

Sang polantas membawa mobil Carolla masuk ke rumah sakit. Dia menoleh ke belakang dan berkata, "Kamu tunggu sebentar. Aku akan memanggil orang kemari." Dia segera bergegas masuk ke gedung rawat jalan.

Yang Luo merasa lega dan segera turun dari mobil. Tanpa ragu-ragu, dia berbalik dan pergi, meninggalkan rumah sakit tersebut. Jika masalahnya terlibat ke tangan polisi, hal pertama yang dilakukan Yang Luo tentu harus segera pergi. Kalau tidak, dia akan dicatat dan dikenakan denda ketika ditemukan bahwa dia tidak memiliki SIM. Kedua, karena dia terlah berbohong dan menipu orang lain. Ketiga, dirinya juga telah berpartisipasi dalam perkelahian. Akan aneh jika dirinya tidak segera ditangkap!

Setelah keluar dari rumah sakit, ponselnya Yang Luo berdering. Begitu melihat siapa yang menelepon, dia menghela nafas dan berkata. "kakak, apakah amarahmu sudah lenyap?"

Itu adalah Chen Xue. Dia mendengus dan berkata, "Aku marah darimana? Lagi pula, ini tidak bukan pertama atau kedua kalinya aku marah dengan bajingan sepertimu! Bagaimana kabarmu selama dua hari ini?"

"Kak, kamu tidak tahu apakah aku baik-baik saja atau tidak?" Yang Luo tertawa kecil. Karena Chen Xue mengkhawatirkannya, dia pasti akan mengirim orang untuk mematainya, Ini adalah tindakan kriminal.

Chen Xue tidak berencana untuk bertengkar dengannya mengenai hal ini. Dia pun mengganti pembicaraannya dan berkata, "Apa yang terjadi dengan Bai Qilin?"

"Bukankah seperti biasa." Yang Luo dengan santai berkata, "Lagipula, dia akhir-akhir ini cukup taat, tidak begitu gerakan. kakak, aku sudah bilang bahwa kamu tidak perlu peduli dengan masalah ini. Jika aku tidak bisa menghadapinya, hal pertama yang kulakukan pasti meminta bantuanmu!"

"Aku tidak akan mempercayaimu!" Chen Xue mengatakan demikian. Dia juga tahu tahu bahwa keputusan Yang Luo tidak mungkin masuk akal. Kalau tidak, bagaimana dia bisa membiarkan dia pergi ke tentara di awal, kan? Chen Xue dengan lembut berkata, "Bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaanku? Setidaknya aku bisa merasa tenang."

"Tidak bisa! Aku baru saja mendapatkan sedikit hasilnya!"

"Baiklah. Oh iya, aku akan memperkenalkan kamu dengan seseorang lain waktu. Kamu sudah lama kembali ke Kota Jiang. Untuk kedepannya, kamu tidak akan selamanya menjadi guru seni bela diri, kan? Manfaatkan waktu sebanyak-banyaknya, membangun lebih banyak koneksi agar kamu mendapatkan perkembangan yang bagus untuk ke depan."

"Lain hari, ya. Kalau begitu sampai di sini ya. Aku akan mematikan teleponnya." Yang Luo sama sekali tidak tertarik dengan hal ini, makanya dia segera mematikan teleponnya. Menurutnya, membangun koneksi dan hal-hal lain itu diibaratkan dalam sebuah kata ——munafik. Sungguh ironis ketika saat ini, orang-orang hanya dapat mengandalkan kepalsuan seperti ini untuk pencapaian keberhasilan mereka.

Ketika melihat jam, waktunya sudah lewat jam delapan. Hari ini, Lin Yue memintanya untuk segera makan setelah pulang kerja. Tampaknya Lin Yue tidak akan memberi makanan yang gagal dibuatnya semalam kepada Yang Luo. Dia tentu tidak akan semudah itu menyerah.

Ketika memikirkannya, perut Yang Luo berkeroncong. Yang Luo sibuk melatih siswa di siang hari, sampai-sampai lupa untuk makan siang. Dia pun berpikir setelah pergi ke bank, dia akan membeli roti kukus di pinggir jalan dan memakannya. Sekarang perutnya kosong, seakan dapat memasukkan apapun ke dalamnya.

Setelah memanggil taksi, Yang Luo tidak segera pulang, melainkan pergi ke bank terlebih dahulu. Tidak ada cara lain, dia mau transfer uang ke rekening dulu untuk memberi contoh pada kumpulan bajingan itu.

Setelah Yang Luo menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke Komplek Tiangong Dian, hari sudah pukul sembilan malam. Begitu dia membuka pintu, bau daging langsung tercium dalam lubang hidungnya, dimana membuatnya bersemangat.