Special Forces Di Metropolitan

Bab 93 Perempuan yang Pemalu itu Cantik

Bab 93 Perempuan yang Pemalu itu Cantik

Pemuda itu meraung keras. Wajahnya dipukul dengan keras hingga tubuhnya terpelanting ke tanah. Ujung bibirnya mengeluarkan darah, bahkan ada beberapa giginya yang sampai tanggal.

Semua yang disana terperangah, spontan mereka melihat ke arah si pemukul, yang tanpa diduga adalah Yang Luo.

Wajah perempuan yang ada di mobil tadi seketika pucat. Ia berteriak, lalu segera membuka pintu mobil dan turun. Ia berlari menghampiri pemuda itu sambil meraung sedih, "Darling, kamu tidak apa-apa?"

Murid-murid yang mendengar sapaan perempuan ini terhadap si pemuda merasa jijik, apalagi Yang Luo. Dia rasanya mau muntah, dengan kasar ia berkata, "Tutup mulutmu!"

Perempuan itu gemetar, ia langsung terduduk ke tanah dan mendongak menatap Yang Luo dengan wajah penuh ketakutan. Tapi Yang Luo langsung membuang muka. Ia menarik kerah baju pemuda yang tergeletak di tanah tadi sambil berkata, "Bagaimana rasanya? Enak? Cepat keluarkan seribu jurusmu itu, jangan menunda waktu makan siangku!"

Pemuda itu kaget campur ketakutan. Sambil meronta-ronta, ia berteriak, "Lepaskan aku! Kalau tidak, aku teriak minta tolong!"

Luka di wajahnya terlihat jelas. Saat berbicara, suaranya pecah-pecah. Tampangnya sekarang terlihat kasihan, tapi juga lucu, membuat para murid tertawa.

Saat itu, terdengar suara seseorang dari kejauhan, "Ada apa ini?"

Yang Luo mendongak, menoleh ke arah datangnya pemilik suara itu yang ternyata adalah Li Jian.

‘Pasti karena mengira ada kecelakaan, makanya dia tanya-tanya!’

Pemuda tadi berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa. Di saat hatinya sedang ketakutan, ia melihat seorang berpakaian petugas keamanan di daerah komplek itu lewat. Iapun langsung berteriak minta tolong, "Tolong! Ada yang memukulku! Ada yang memukulku!"

Siapa sangka Li Jian yang mendengar suara ini langsung mengerutkan dahi dan menepuk dahinya, "Wah, lupa bawa handy talkie!"

Iapun berbalik dan pergi.

Meskipun Yang Luo juga merasa aneh dengan respon ini, tapi ia biarkan saja Li Jian pergi. Untuk kedua kalinya ia memukul kembali wajah sebelah kanan pemuda itu, "Ayo cepat! Aku menunggu seribu jurusmu itu!"

Melihat petugas keamanan tadi pergi, hati pemuda itu langsung putus asa. Karena mendapat satu pukulan lagi, spontan iapun berteriak seperti kecolongan ayam, "Tolong! Ada yang memukulku! Tolong! Aku mau dibunuh!"

Mendengar teriakan fitnah pemuda ini, Yang Luo merasa marah, tapi juga merasa konyol. Iapun memukulnya lagi, "Tutup mulutmu!"

Pemuda itu segera tutup mulut. Matanya bersinar ketakutan.