Bab 95 Di Jalan Bei

Sambil berjalan, Yang Luo memperhatikan sekelilingnya dengan seksama, baik itu toko-toko di pinggir jalan maupun bangunan yang ada.

Jalan Bei merupakan jalan utama dengan lebar 30 meter dan panjang 4 km. Di kedua ujung jalan itu masih ada 2 jalan besar lain. Terdapat banyak butik di kanan kiri Jalan Bei, juga ada tempat hiburan yang besar dan bermacam-macam restoran.

Di jalan utama terdapat belasan gang-gang kecil. Setelah berjalan sebentar, Yang Luo memilih salah satu gang kecil yang ada.

Wang Hu langsung mengingatkannya dengan gugup, "Ini Gang Burung Layang-layang. Lei Bao keluar dari jalan ini."

Karena membaca nama gang inilah makanya Yang Luo memilih gang kecil ini. Mendengar peringatan dari Wang Hu, iapun tersenyum, "Lalu kenapa? Kamu takut?"

Wang Hu tersenyum kecut, "Di jalan besar diluar sana, anak buah Ma Qian di jam-jam segini masih tidak berani bertindak. Tapi kalau sudah masuk gang kecil, mungkin saja mereka akan mengeroyok kita!"

Yang Luo hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Yang Luo hari ini bertekad untuk jalan-jalan di sini karena memiliki 2 tujuan, salah satunya adalah ingin melihat respon Wang Hu. Meskipun anak ini berkali-kali menegaskan bahwa dirinya akan ikut Yang Luo, tapi Yang Luo hanya percaya pada dirinya sendiri.

Harus diketahui bahwa pelanggaran terbesar di Jiang Hu adalah pengkhianatan. Wang Hu meskipun telah banyak berbuat untuk Yang Luo, tapi keduanya tidak pernah muncul secara bersamaan di depan Ma Qiang dan anak buahnya. Orang lain sama sekali tidak tahu bahwa Wang Hu telah berubah, Yang Luo sendiri bahkan tidak bisa memutuskan apakah Wang Hu ikut dengannya secara tulus atau tidak. Maka dari itulah, ia harus memikirkan cara untuk mengetes kesungguhan hati Wang Hu.

Barusan Yang Luo bersikeras untuk masuk ke Jalan Bei. Kalau Wang Hu tidak berani untuk ikut dengannya, itu berarti dia tidak berani muncul bersama Yang Luo di hadapan anak buah Ma Qiang. Keteguhan hatinya patut untuk dipertanyakan.

"Jangan khawatir, orang-orang itu belum tentu mengenaliku. Toh Ma Qiang juga tidak terlalu mengenalku," kata Yang Luo dengan wajah tidak peduli. Selanjutnya, ia berjalan ke area gelap gang itu. Sinar lampu disana remang-remang, orang-orang yang berjalan disana juga sedikit. Di kedua sisi jalan itu kebanyakan adalah rumah teh, dimana orang-orang biasanya main kartu sambil minum teh. Di depan rumah teh itu, ada banyak mobil pribadi yang diparkir.

Wang Hu sebenarnya tidak setuju akan tindakan ini. Meski demikian, karena Yang Luo sudah begitu berani, Wang Hu juga tidak enak untuk menunjukkan kelemahannya. Iapun mengikuti Yang Luo sambil berpura-pura berani. Hatinya bertekad, kalau ada apa-apa, ia akan langsung meminta tolong pada Paman Long. Karena Yang Luo sudah menolong anak perempuannya, beliau pasti mau menolong mereka.

Setelah terus berjalan masuk ke dalam gang tersebut, Yang Luo melihat dari kejauhan datang beberapa preman yang mengendarai motor ke arahnya. Sorot mata mereka terlihat kaget dan curiga.

Yang Luo berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkahnya melewati mereka.

Preman-preman itu rambutnya bercat dan diikat satu seperti ekor ayam. Mereka turun dari motor, lalu berjalan menyambut Yang Luo. Salah satu preman bertubuh kecil memanggil, "Hu Zi, kok selama beberapa hari ini aku tidak melihat mu? Habis dari mana?"

Yang Luo menghentikan langkah, lalu berbalik melihat Wang Hu.

Wajah Wang Hu makin gugup. segera ia menyapa, "Ko Feng!"

Jelas sekali orang bertubuh itu adalah kepala para preman tersebut. Orang itu maju dan mengamati Yang Luo dari atas ke bawah, lalu bertanya, "Hu Zi, siapa orang ini?"

Seketika Wang Hu tidak bisa menjawab, ia melirik ke arah Yang Luo.

Yang Luo menyeringai, "Hallo bung. Namaku Yang Luo."

Begitu nama "Yang Luo" ini terucap, wajah preman-preman tersebut berubah serius.

Orang bertubuh kecil tersebut dengan susah payah memalingkan wajahnya kepada Wang Hu, "Hu Zi, orang ini bilang dia…"

Karena sudah sampai sejauh ini, apa boleh buat. Wang Hu terpaksa tersenyum, "Benar, ini sobatku, namanya Yang Luo. Kak Feng, kamu juga pernah mendengarnya, orang yang waktu itu membuat Kak Er sampai cacat adalah sobatku ini."