Special Forces Di Metropolitan

Bab 105 Motif Pembunuhan Wu Qingyue

Bab 105 Motif Pembunuhan Wu Qingyue

Yang Luo sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan ini, lalu menjawab dengan serius, "Berguna atau tidak harus tunggu sampai kompetisi dulu."

Dia pun mengeluarkan ekspresi iblisnya, tidak ada yang berani bertanya lagi. Selama ada surat perjanjian, Yang Luo tidak takut dengan bocah-bocah ini akan memberontak, sehingga dia mengajarkan setiap teknik dengan teliti.

Setelah mau jam 5, Yang Luo pun menyuruh mereka latihan sendiri, kemudian menunjuk Chen Xia, Fang Yuan, si Kepala datar, dan A Ming menjadi pengawas sementara, dia pun pergi dulu, dia jalan ke belakang gedung belajar-mengajar.

Jarang ada orang yang datang ke tempat ini, dan paling jauh dengan pintu sekolah, tidak usah khawatir akan ketahuan oleh polisi yang mengekor. Dia menemukan 1 tempat, kemudian dengan bantuan berlari lalu melompat, dia pun berhasil memanjat pagar yang setinggi 5 meter dan keluar. Gerakan dia sangat berhati-hati, walaupun di atas pagar ada puing-puing kaca dan kawat-kawat tajam yang mencegah keluar masuk, tetapi sama sekali tidak sulit baginya. Setelah tiba di luar pagar, dia pun menepuk-nepuk debu, tidak terluka sama sekali.

Di belakang tembok adalah gang kecil yang hanya selebar 2 meter, ada beberapa anak-anak yang sedang bermain, mereka pun terbengong.

Yang Luo tersenyum ramah pada mereka, kemudian mencari arah dan mulai berlari. Tidak lama kemudian, dia pun sudah tiba di jalan raya, kemudian memanggil taksi dan menuju ke Rumah Sakit Rakyat Nomor Empat.

Di dalam perjalanan, hapenya berdering, Yang Luo pun menjawab, "Halo?"

"Kakak Luo?" terdengar suara yang dikenal.

"Iya, Paman Long?" Yang Luo mengenal suara ini.

"Iya, Kakak Luo, aku mau informasikan, Wang Hu menjalankan operasi kecil, sekarang sudah membaik, posisinya ada di klinik teman aku, kamu tidak usah khawatir."

"Makasih!" Yang Luo pun merasa tenang.

"Oh ya, malam ini ada waktu tidak? Datang tempat aku?"

"Paman Long sudah buka mulut, tidak ada waktu juga harus diadakan! Kalau gitu jam 8 ya, aku akan datang tepat waktu."

Usai telepon, mobil pun sudah tiba di depan Rumah Sakit Rajyar Nomor Empat. Yang Luo turun dari taksi lalu membayar, kemudian masuk ke dalam gedung praktek, menerobos taman bunga kecil dan masuk ke dalam gedung rawat inap. Dia tidak naik lift, tetapi langsung naik tangga ke lantai 3, dan mencari kamar nomor 3042.

Dari jendela kecil yang di pintu, terlihat bahwa kamar pasien untuk bertiga ini hanya 1 ranjang yang diisi, seluruh badannya dibalut kain kasa, tersisa wajah yang saja yang masih terekspos. Setelah melihat dengan jelas, Yang Luo pun membuka pintu dengan gembira.

Pasien itu sedang bersandar sambil menonton, ketika sadar bahwa ada orang yang masuk, dia pun langsung membalikkan kepala dan bertanya dengan bingung, "Kamu cari siapa?"

Yang Luo tertawa, "Rupanya kamu sudah tidak mengenal aku."