Special Forces Di Metropolitan

Bab 116 Siap Beraksi

Bab 116 Siap Beraksi

Tetapi setelah melihat dia kembali "normal", Yang Luo baru bisa tenang. Memang sesuai yang dia sendiri katakan, hanya luka kecil saja.

Ketika keluar dari kamar, hapenya berdering. Ketika melihat nomor yang masuk, Yang Luo langsung keluar rumah dulu baru jawab, "Halo, Paman Long?"

Suara Paman Long berngiang, "Ma Qiang sudah mulai cari orang, rencananya malam ini jam 12 datang cari aku. Sebaiknya kamu juga bersiap-siap, dia takut kamu akan ikut campur. Dia akan suruh orang untuk mengawas kamu."

Yang Luo pun tertawa, "Paham."

Usai telepon, hati Yang Luo muncul perasaan yang sangat aneh.

Setelah berencana panjang, akhirnya datang juga.

Ketika mengambil langkah ini, berarti tidak bisa kembali lagi, tetapi dia memang tidak ada rencana kembali.

Usai berpikir, Yang Luo kembali ke rumah, kemudian melihat ke kamar Qin Bingbing, "Aku pergi kelas dulu."

Qin Bingbing berkata dengan kesal, "Cepat pergi. Supaya aku tidak marah karena melihat kamu."

Yang Luo membalas dengan tertawa, lalu pergi.

Malam jam 7, Yang Luo pun membebaskan para anak didiknya, kemudian berjalan santai menuju Kompleks Tiangongdian. Sepanjang jalan, dia tidak lupa melihat kanan kiri, santai sekali. Begitu sampai Pasar Nongmao, dia membeli buah, sambil jalan sampai makan. Ketika sampai Kompleks Tiangongdian, buah yang dia beli sudah mau habis dimakan.

"Kakak Luo!" Dingzi langsung memanggil dia ketika melihat dia muncul di depan pintu.

Yang Luo tertawa, lalu memberikan sisa buah kepadanya, "Sisaan, jangan dihina.

Dingzi tidak menjawab, Xiao Guang yang di samping menerimanya dengan tertawa, "Sudah lama tidak makan apel besar, barang ini sekilo harus beberapa Kuai. Makasih Kakak Luo."

Yang Luo tertawa, lalu menarik Dingzi ke samping dan berkata dengan suara pelan, "Nanti, kalau ada orang yang tidak jelas mau masuk kompleks, kamu jangan hadang."

Dingzi terlengah, tetapi mengangguk juga.

Yang Luo pun masuk ke dalam kompleksnya dengan terang-terangan, kemudian melenyap setelah pergi jauh.

Sekitar 1 menit kemudian, 2 anak muda yang bersikap preman datang. Setelah berdiskusi sesaat, dia pun ingin masuk.

Dingzi langsung menghadang, "Pengunjung harus daftar dulu."

Kedua orang itu saling menatap, lalu jalan ke samping ruang sekuriti. Ketika mau mendaftar, Dingzi berkata lagi, "Mohon keluarkan kartu identitas, di sini harus daftar sesuai nama asli."

Kedua orang itu saling bertatapan, beberapa saat kemudian, salah satunya baru berkata dengan hati-hati, "Kakak, kartu identitasnya hilang, bagaimana kalau catat pakai punya aku saja?"

Dingzi ragu sesaat, baru berkata, "Baiklah, bagian ini isi mau berkunjung siapa, bagian sini isi nama kalian."

Mereka segera mengisi, Dingzi mengecek, lalu mengangguk, "Kalian sudah boleh masuk."