Bab 119 Tawanan

Yang Luo mengangguk, kemudian ikut Paman Long turun ke bawah. Paman Long suruh orang antarkan tongkat, setelah dicoba-coba, Yang Luo merasa tongkat sepanjang setengah meter itu tidak masalah. Terhadap senjata, dia tidak ada permintaan khusus. Karena saat latihan di tim pasukan khusus, harus serba bisa, semua yang ada di samping bisa dijadikan senjata. Apalagi terhadap Yang Luo yang menonjol. Tidak ada istilah tidak terbiasa dengan senjata manapun.

Setelah menunggu sampai 12.05, A Qiang masuk, lalu berkata dengan panik dan semangat, "Kakak Luo, Ma Qiang sudah datang."

Saat ini, di pintu keluar bagian utara area kumuh, Ma Qiang sedang menatap anak buahnya yang di depan mata, sambil menungguk semuanya berkumpul. Tangan kanan dia dibalut kain kasa, ini adalah pertanda dia dipermalukan, dan pada hari ini, dia akan membalas semua yang dia rasakan ini.

Anak buah dia tidak datang sekaligus, tetapi dibagi menjadi puluhan regu, setelah masuk ke akses di bagian utara, mereka baru berkumpul kembali. Tujuan berpisah-pisah adalah menghindar terjadi kehebohan, tetapi setelah di dalam area pekumuhan, tidak perlu pantang lagi. Pada malam hari, tidak ada yang akan urus tempat ini, bahkan tidak peduli dengan apa yang terjadi.

Pukul 12.08, seorang preman berusia paruh baya yang memakai anting-anting sekasar jari tangan jalan ke sampingnya, "Kak Qiang, sudah lengkap."

Ma Qiang mengangguk, kemudian mengeluarkan hape dengan tangan kiri, lalu menelepon, "Halo? Aku Ma Qiang, bagaimana keadaan di sana? Apakah dia masih di atas? Baik," usai bertelepon, dia berkata pada pria yang beranting-anting itu, "Jalan."

Pria beranting-anting itu menjawab, lalu membalikkan kepala, "Jalan."

Rombongan besar langsung bergerak mengikut Ma Qiang dan pria beranting-anting itu. 200 orang ini membuat gang menjadi padat, mereka menuju ke rumah makan Paman Long.

Ma Qiang merasa lega.

Orang sebanyak ini, seharusnya sudah cukup untuk membangun reputasinya kembali. Shen Long ataupun Yang Luo, siapa yang berani macam-macam dengan Ma Qiang, tidak akan dikasih ampun.

Yang kasihan adalah kedua andalannya itu, Lei Bao dan A Hui yang luka berat karena dipukul bocah itu, sehingga mereka tidak bisa ikut gerakan hari ini. Tetapi jumlah mereka lebih banyak, dan bocah itu tidak ada, Ma Qiang tidak percaya kalau tidak bisa menghabiskan Shen Long.

Kedudukan Ma Qiang di Jalan Bei adalah atas usaha dia sendiri. Kota Jiang adalah kota yang luas dan ramai, geng mafia juga sangat banyak, prestasi yang dicapai juga tidak gampang. Tetapi Yang Luo yang tidak bernama itu justru sering menantangnya, jika dia tidak beraksi, apakah anak buahnya masih akan menurut padanya?

Area pekumuhan ini termasuk sebuah kawasan juga, sebelumnya, Ma Qiang merasa ini adalah tempat kumuh, sehingga sangat tidak tertarik. Jika bukan karena Paman Long membela Yang Luo, dia juga malas datang ke tempat ini.

Tetapi sekarang sudah berbeda. Setelah malam ini, Ma Qiang akan memasukkan area pekumuhan ini ke dalam wilayah teritorialnya. Paman Long ataupun Yang Luo, pergi mati saja.

Di rumah makan, Paman Long sudah mendapat kabar Ma Qiang yang mulai beraksi. Dia melemparkan sendok masak, lalu jalan ke tengah-tengah rumah makan dan berkata, "Teman-teman, saudara-saudara, aku lagi ada sedikit masalah, supaya tidak ada korban yang tidak bersalah, harap semuanya pergi dulu. Untuk kali ini, aku yang traktir."