Bab 121 Bos Baru

Kakak Hui tidak memperdulikannya lagi, tatapannya menyorot orang lainnya: "Hari ini aku Ahui tidak takut ada yang mengatakan diriku seorang penghianat, jujur saja, Maqiang memang baik kepadaku, tapi aku tidak pernah menyukai orang yang hanya baik di depan seperti dirinya! Selama aku mengikutinya, aku sudah banyak melihat hal brengsek yang ia perbuat! Bos lain menganggap saudara lain sebagai tangan kanan, namun dia menganggap saudara sendiri bagaikan sebuah pakaian, ingin dipakai ya dipakai, ingin dilepaskan ya dilepaskan, sekalinya merasa tidak senang, pukulan hanyalah hal sepeleh, dia bahkan berani menggunakan nyawa saudaranya sendiri sebagai bahan candaan! Siapa yang bisa melupakan kejadian di arena balap kuda tahun lalu, kalau ada keluar katakan padaku! Dan juga kejadian di hotel Feicui dua bulan yang lalu, Huanzi, kamu masih berani bilang bahwa orang ini adalah orang baik?!"

Orang yang disebut namanya tidak berani bersuara.

Yang dikatakan kakak Hui, sudah pernah dilihat dan didengar langsung oleh orang-orang yang hadir. Akar masalah dari arena balap kuda adalah karena Maqiang mencari masalah dengan bos besar di daerah tersebut, orang tersebut datang memaksanya bersujud dan memberikan teh untuk permintaan maaf, namun dia tidak sadar diri, juga tidak berani menantang, namun juga tidak ingin kehilangan wibawa untuk meminta maaf, maka mendorong seseorang untuk itu, membiarkan pihak lawan membunuh seseorang dari mereka untuk menyelesaikan dendam.

Jika masalah di hotel Feicui, ini adalah sebuah hotel bintang empat yang terletak di jalan utara. Maqiang memperkosa seorang pelayan wanita di hotel tersebut, setelah itu mengancamnya untuk tidak melapor polis, namun setelah kejadian itu, pihak kepolisian datang mencarinya, Maqiang malah menunduh seseorang saudara lain untuk menggantikan dirinya masuk ke dalam sel tahanan. Dan juga, dia menjanjikan saudara ini untuk mengganti kerugian pada pihak keluarganya sebesar tiga puluh juta RMB, namun sepeser pun tidak diberikannya. Istri dari saudara tersebut membawa seorang anak laki-lakinya datang mencari Maqiang, namun Maqiang tidak mengakui, berkata"Uang boleh diberikan padamu, namun kamu harus tinggal disini", walaupun tidak terjadi, namun hal ini menciptakan isu miring yang makin tersebar luas.

Kakak Hui berkayta semakin membara: "Dia sudah mati, aku bukan hanya tidak sedih, bahkan sangat amat bahagia, bukan karena apa, namun merasa bahagia kepada seluruh saudara-saudara yang mengabdi dengan tulus kepadanya! Siapa yang merasa tidak setuju, dan ingin membalas dendam padanya, langkahi dulu aku!"

Yangluo merasa sangat terkejut, tidak menyangka ternyata orang ini datang membantu menyelamatkan situasi.

Orang-orang yang tadinya tergerak, seketika terdiam hening.

Orang-orang di dalam grombolan ini kebanyakan adalah anak muda yang belum cukup umur, sekalinya keadaaan memanas, orang yang sebenarnya tidak begitu akrab dengan Maqiang, dan tidak pernah berhubungan dengan Maqiang. Namun siapa pun tahu bahwa Maqiang mempunyai dua tameng kuat, kedua orang ini adalah, satu Leibao, kedua adalah Ahui, sekarang orang yang paling diandalkannya malah merusak namanya di depan publik, bisa dibayangkan bagaimana perasaan orang lainnya. Mempertaruhkan nyawa demi orang seperti ini, apa gunanya?

Kakak Hui mengangkat tangan, menunjuk Yangluo berkata dengan keras: "Dan orang ini, tidak meninggalkan saudaranya saat saudaranya terluka berat, hari ini demi putri dari paman Long, dia bahkan berani mengorbankan tubuhnya hingga cacat, bukan karena hal lain, namun kesetiaannya, membuat aku Ahui sangat amat kagum! Mulai dari hari ini, aku adalah orang dari kakak Lup, siapa yang berani menganggunya, harus melangkahi diriku dulu!"

PLANGGG!

Ada senjata seseorang yang terjatuh lain, bukan karena terkejut, namun ia membuangnya sendiri.

Karena suara ini, suara jatuhan benda mulai bersautan, sapai akhirnya, semua orang membuang pisau dan pukulan serta senjata lainnya kebawah tanah, bahkan Jingliu pun juga.