Bab 131 Pura-Pura

Yang Luo menatap pemuda kurus itu dari atas ke bawah dengan seksama, melihat kain kasa yang terbalut di telapak tangannya, seketika teringat akan sosok pemuda ini.

Bukannya dia pembunuh yang diutus oleh Tian Wang ke rumah sakit untuk membunuh Wu Qingtie? Kala itu Wu Qingtie berkata dia adalah orang kepercayan Tian Wang, kalau tidak salah bernama Chen Zi, termasuk sebagai salah satu anggota “Empat pelindung”. Yang Luo merasa lucu ketika mendengar hal ini, walaupun saat mereka bertarung dia bisa merasakan bahwa lawan mempunyai kemampuan yang cukup baik, namun dia tidak memperdulikannya, saat ini diperhatikan dari samping, dia baru menyadari ada suatu kepercayaan diri dalam dirinya yang tidak dimiliki oleh orang lain, sudah jelas adalah ahli yang memiliki jam terbang yang tinggi.

Sebuah pemikiran muncul dari benak Yang Luo.

Jika bisa menangkapnya, maka bisa menyelamatkan Linyue, dengan seperti ini makan akan menjadi lebih kuat.

Empat puluhan orang menempati posisinya masing-masing dibawah perintah, bersembunyi di beberapa tempat yang pernah diperiksa oleh Yang Luo sebelumnya. Selama dia memerlukan, mereka akan segera meluncur ke gudang nomor 8 dalam waktu sekejap.

Chen Zi berada di depan pintu gudang dengan tatapan dinginnya, melihat seluruh saudaranya sudah bersembunyi dengan baik, baru mengeluarkan ponsel dan menelefon, menunggu sambungan.

Yang Luo mengarahkan seluruh fokus, seluruh konsentrasinya digunakan untuk mendengar. Untung saja ini adalah malam hari, lingkungan sekitar tenang, walaupun volume telefon tidak begitu besar, namun masih dapat dijangkau oleh pendengarannya.

“Kakak Fei Yu, orang-orang sudah datang kemari. Iya, baik, saudara yang diutus untuk mengawasi rumahnya belum memberi balasan. Mengerti.”

Chen Zi berkata beberapa kalimat lalu menutup telefon, Yang Luo mendengarnya dan terkejut, berkata gawat di dalam hati.

Dia sama sekali tidak merasa pihak lawan mengutus orang untuk mengawasi dirinya, namun tetap waspada, tidak meninggalkan perumahan Tiang Gongdian melalui pintu utama, melainkan dengan cara lamanya yakni melompat tembok. Orang yang diutus lawan harusnya berjaga di depan perumahan, maka tidak menyadari bahwa Yang Luo sudah tidak berada di dalam kawasan perumahan lagi.

Terdiam sebentar, Yang Luo teringat akan sesuatu, membuatnya tertegun seketika.

Di pintu gudang, Chen Zi kembali menelefon, mengatakan beberapa kalimat langsung menutup telefonnya, melihat waktu, mengkerutkan dahinya, bergumam sendiri: “Aneh, mengapa dia masih belum berangkat juga?”

Hati Yang Luo tergerak saat mendengarnya.

“Dia?” apa jangan-jangan pihak lawan masih memiliki orang yang hebat?

Terdiam beberapa saat, seketika tersadar dan hampir membuat Yangluo melompat.

“Dia” yang dimaskudkan ini bukanlah orang lain, melainkan adalah dirinya sendiri Yang Luo!

Berdasarkan aturan, karena harus melalui satu jam perjalan dengan mobil, demi tidak terlambat untuk janji pada pukul dua belas, Yang Luo seharusnya meninggalkan perumahan sebelum pukul sebelas, berangkat mengarah ke kawasan pergudangan. Namun karena dirinya sudah berada di tempat sekarang, tentu saja tidak memiliki cara untuk keluar dengan bebasnya dari pintu depan. Pengawas dari pihak lawan tidak menyadari keberadaan dirinya, tentu saja dapat menerka-nerka penyebabnya, bisa jadi Yang Luo sudah meninggalkan tempat diam-diam, dan mengancam pihak lawan!

Berfikir seperti ini, Yang Luo menggunakan kesempatan, langsung bersembunyi di antara tumpukan kotak, menelefon secara diam-diam.