The Time Machine

Bab 58 Di Perbatasan Wilayah

Bab 58 Di Perbatasan Wilayah

Tugu besar dengan bata merah yang sudah sedikit menghitam berdiri menjadi pembatas wilayah. Jika tidak salah ingat, wilayah ini sudah masuk ke dalam wilayah Jawa Timur di masa depan. Kevin memimpin jalan, mengambil langkah ke timur tanpa lelah. Sedalam memasuki tugu, tumbuhan masih lebat tumbuh di depan mereka. Hingga dua kilometer setelahnya, sebuah bangunan yan ramai terbentuk di sana. Mirip seperti kota pada zaman kuno.

Pertunjukan tarian di panggung jalanan ramai dikerumuni rakyat, ada pula permainan alat musik di sampingnya. Pertunjukan kecil di sepanjang jalanan penuh bergilir dengan para pedagang mainan dan permen yang berjajar rapi. Sepanjang jalan itu penuh terisi, membuat lautan manusia berdesakan menuju tempat tujuannya. Sedangkan empat serangkai harus berpegangan tangan agar tidak terpisah.

Di belakang para pedagang kecil itu terdapat banyak kedai besar. Ada kedai kain, makanan, sampai obat-obatan. Kevin mencari penginapan untuk mereka. Namun, setiap kali memasuki penginapan sudah penuh. Malang nasib mereka hari itu, mendapatkan tempat selain hutan, tetapi tidak ada tempat yang lebih nyaman untuk digunakan.

Sampai di penginapan ketiga yang mereka kunjungi, seorang wanita dengan pakaian khasnya. Memperlihatkan bahu. Di lehernya tersampir sampur panjang sampai hampir menyentuh lutut. Sampur itu berwarna merah, senada dengan warna bibirnya. Wajahnya putih ayu dengan gelungan rambut tinggi dihiasi beberapa hiasan rambut berornamen emas.

“Kalian mencari tempat menginap?” tanya sang wanita membuat Rara mengangguk.

Wanita itu melihat Rara dengan bingung, pakaian yang dikenakan oleh Rara berbeda. Rara mengenakan pakaian lebih tertutup dengan kerudung yang rapat sampai tidak terlihat kulitnya kecuali muka dan telapak tangan. Meski di daerah ini banyak orang asing yang hilir mudik, tetap saja gaya pakaian Rara cukup menyita perhatian. Unik dan tertutup, cukup modis dan manis.

“Kami mencari tempat untuk menginap malam ini.”

“Setiap malam penginapan ini penuh, banyak orang dari timur ke barat, pun barat ke timur. Bahkan banyak uang pun belum tentu bisa menyewa tempat.”

“Lalu,” kata Kevin mendekat. “Adakah saran untuk kami?” tanyanya lagi.

“Jika kalian berkenan, kalian bisa menginap di bale belakang bale tari saya. Tempatnya di sebelah penginapan ini.”

“Bale?” tanya Tapa. Dia memandang Rara dan Salman.