The Time Machine

Bab 60 Bandit!

Bab 60 Bandit!

Hal yang sedikit buruk untuk dilalui saat ini adalah melewati hutan sepi yang terlihat tentram dan manusiawi. Walaupun hutan rimba sedikit menakutkan, hutan yang lebih manusiawi merupakan hutan yang lebih kejam saat ini. Tidak sedikit cerita dari warga desa terdekat, hutan-hutan yang aman dari binatang buas penuh dengan berbagai macam jebakan pemburu dan juga banyak bandit hutan yang berkeliaran.

Meskipun selama perjalanan dari Semarang sampai di sini tidak ada marabahaya yang begitu tinggi, tetap saja rumor yang beredar ditambah suasana yang sedang dirasakan saat ini mampu membuat keempatnya diliputi rasa was-was, penuh curiga. Hati Rara bahkan sudah diselimuti rasa takut, perasaannya mengatakan di belakang mungkin ada bandit hutan, di atas pohon mungkin juga ada. Segala macam pemikiran yang tidak masuk akal muncul di otak Rara membawa ketakutan yang teramat.

“Kenapa Ra?” tanya Tapa. Meski dirinya pun bisa menebak apa yang Rara alami saat ini, berbicara dapat mengurangi kesepian yang saat ini dirasakan empat serangkai.

“Kepikiran sama rumor hutan ini saja!”

Rara mengucapkan dengan nada ringan, seakan apa yang ditakutkan tidak pernah terjadi. Padahal dia menekan sekuat mungkin agar Salman sedikit tenang. Meski tidak tahu bagaimana kondisi bocah itu, Rara memiliki perasaan dan hati, ia tidak ingin menambah masalah yang sudah ada.

“Tidak usah dipikirkan. Lagian hutan ini juga masih dekat dengan daerah penduduk sana, ada beberapa rumah yang masih terlihat jelas dari atas sini,” kata Kevin. Memang hutan ini menanjak ke atas, seperti pegunungan. Tidak tahu kapan sampai di tempat tujuan. Berharap bisa bertemu segera dengan walisongo, terutama Sunan Kalijaga.

Siang terik yang menonjolkan panas matahari menembus kulit kini mereda, tiupan angin yang makin ringan makin membuat orang-orang mengantuk dan ingin istirahat. Hembusannya menyejukan, sangat nyaman untuk hidup. Jika tidak ada kesempatan untuk pulang atau menemukan tujuan awal, hidup di sini dan menenangkan diri, asal tidak ada bahaya yang mengintai, sungguh sudah puas dalam kehidupannya sampai tua nanti. Ada banyak kebutuhan yang sudah disediakan alam. Air, tanaman obat, tanaman untuk makanan pokok, sayuran dan buah-buahan. Belum lagi ada beberapa hewan liar yang enak dimakan seperti ayam dan kelinci serta beberapa ikan. Menakjubkan!

“Kita istirahat dulu?” tanya Kevin. Melihat Rara seperti itu membuatnya cemas.

“Tidak usah!” seru Rara. Istirahat memang membuat tubuhnya kuat lagi. Istirahat juga bisa menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan. Sayangnya tempat yang dirumorkan masih mereka pijak. Rumor yang beredar masih lima puluh persen benar. Jika mereka istirahat dan bahaya itu datang, entah apa yang akan Rara lakukan. Bagaimana pun ia merasa bertanggung jawab akan hal itu.

“Kenapa Ra?” tanya Kevin lagi. “Kamu kalau capek istirahat dulu!”

Rara menggeleng. “Sudah kubilang lanjut saja. Menurut penduduk setempat, setelah kita keluar dari hutan ini, kita akan menemui hutan bambu. Hutan itu mungkin lebih luas dari hutan ini, kita istirahat di sana saja.”