The Time Machine

Bab 61 Tertinggal

Bab 61 Tertinggal

Tanah lembek tidak menjadi penghalang. Batuan kasar pun sama saja nasibnya. Tanaman yang membuat gatal tidak dihiraukan. Jeritan hewan dibayangi tangisan rantik ditulikan oleh Tapa dan Salman. Kesempatan kabur lima menit yang lalu berujung perjuangan keduanya untuk mendaki gunung yang penuh dengan halangan. Kaki kebas dan lecet tidak dirasakan.

Sampai menemukan suatu pohon yang lebih adaptif untuk dipanjat. Tapa menunjukan telunjuknya ke arah pohon itu, menyuruh Salman untuk menaikinya dengan benar.

“Naik, Man!” pintanya yang langsung diangguki Salman. Bocah itu naik duluan, Tapa dari bawah membantunya sembari menengok ke belakang sesekali. Dia tidak tahu kapan bandit itu sampai menemukan mereka. Akan lebih baik jika haluan yang diambil para bandit berbeda dengan apa yang mereka ambil saat ini.

“Sudah, Mas!” kata Salman, kepalanya menunduk, melihat Tapa yang berusaha naik secepat yang ia bisa.

“Kita ketinggalan di jaman Majapahit, Man.”

Salman hanya diam, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Ia ingat betul bagaimana tampang para bandit yang kebingungan dengan asap tebal yang tiba-tiba muncul di sana. Lalu dua orang menghilang. Sehebat apa pun kanuragan seorang pesilat, menghilang begitu saja rasanya kurang masuk diakal. Waktu yang begitu singkat, Tapa menariknya untuk terus berlari mengambil arah menaiki gunung. Entah apa yang ada di pikiran Tapa, saat itu Salman hanya manut saja.

Sekarang jika dipikir lagi, menghilangnya Rara dan Kevin sudah pasti kembali ke asalnya. Mungkin ke ruangan di museum, atau ada kecelakaan masuk ke jaman yang lebih mengerikan. Hal yang paling nyata dan menjadi fakta di sini ialah Tapa dan Salman memang terdampar di abad kemunduran Majapahit.

“Terus bagaimana, Mas?” tanya Salman yang sama bingungnya dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini.

Tapa menghela napasnya, berniat memandang Salman pun tidak tega. Bagaimana pun ini tanggung jawabnya. Tapa juga sedikit kesal dengan sikap impulsif Kevin. Orang yang jatuh hati memang memiliki perilaku yang berbeda, lebih perasa dan egosentris. Kevin yang biasa berpikir jauh ke depan dengan penuh perhitungan pun bisa melakukan hal konyol seperti itu. Paling tidak tadi dia menyeret Salman, bocah cilik itu sudah dibanting ke sana dan kemari dengan Tiga Serangkai. Akan tidak adil jika kemalangan ini menimpanya juga.

“Kita di sini dulu, nunggu sampai beberapa waktu buat yakin kalau mereka tidak ngejar sampai sini.”