The Time Machine

Bab 64 Ini Sudah Halal!

Bab 64 Ini Sudah Halal!

Hari pernikahan telah tiba. Kevin sudah siap melafalkan akadnya dengan Rara. Mereka duduk secara terpisah ketika pelaksanaan Akad dilaksanakan. Setelah itu, barulah kedua mempelai berjalan perlahan saling mendekat.

Kevin terlihat begitu datar dan tidak tenang, pun dengan Rara. Suasana pernikahan yang meriah dan membahagiakan bagi banyak orang tidak dirasakan oleh Kevin maupun Rara. Keduanya sama-sama memikirkan kondisi Salman dan Tapa di luar sana.

Karpet merah, dekorasi putih berhias merah dengan beberapa keeleganan emas dan perak bersatu, tetapi untuk mendapatkan kemegahan senyum Kevin dan Rara tidaklah mudah.

Adhi seorang ayah yang cukup penyayang. Selain menjadi seorang ayah yang tidak baik karena terlalu setia kepada istri dan sulit move on, dia juga cukup aneh dalam penyaluran kasih sayangnya. Kevin sebagai anak yang tidak pernah dipuji di depan mata bocah itu, tetapi bagi Adhi, ia selalu memujinya setelah selesai salat. Berharap yang terbaik untuk Kevin.

Adhi sulit mengkomunikasikan isi hatinya kepada Kevin. Meski di depan anak itu dan orang tua Rara serta Tapa, Adhi terlihat begitu membenci perbuatan anaknya, pun sangat marah dan tak segan memperlakukan hal buruk kepada Kevin. Dia sama sekali tidak berniat mengungkapkan kekecewaannya dengan begitu kasar.

Melihat Kevin berdiri di samping Rara membuat hatinya bergetar. Sewaktu masih kecil, bocah itu bahkan berani mencakar hidungnya, memainkan rambut di dagunya. Tertawa bersama dan menumpahkan makannya di dada. Namun, ketika dewasa begitu jauh tak tersentuh, berbicara tidak suka, mengekspresikan diri pun tidak bisa. Berpapasan di rumah harus dibantu pembantu keluarga, berbicara dengan sayang harus menunggu demam tiba. Hubungan yang terjalin begitu lama harus seperti itu, sangat kaku dan membosankan. Tidak disangka ketika berdiri dengan cukup serius di depan matanya kini sangat gagah dan berkarisma.

“Papa!” panggil Key. Adhi menoleh, merangkul Key dan memandang Kevin sekali lagi. Key menyandarkan dirinya di bahu sang Ayah.

“Papa percaya sama apa yang dikatakan pengurus museum itu.”

“Perkataanya ambigu,” jawab Adhi. “Papa juga tahu apa yang diajarkan Bundamu tidak akan pernah menghasilkan produk gagal! Dan, Rara gadis baik. Rumor seperti itu sangat disukai masyarakat. Meski Papa bisa saja mengunci setiap mulut, tidak berarti menaikan kembali martabat perempuan yang adik kamu cintai.”