The Time Machine

Bab 65 Saya Gantikan Dia Jaga Kamu

Bab 65 Saya Gantikan Dia Jaga Kamu

Jalanan licin terbuat dari tanah selebar setengah meter dilalui Salman dan Tapa. Keduanya melanjutkan perjalanan setelah beberapa hari yang lalu turun dari pohon dan keluar dari kejaran bandit hutan. Sekarang mereka sudah sedikit lega dan merasa aman sebab hutan yang terkenal banyak bandit itu sudah mereka lewati. Pakaian mereka yang berantakan juga bawaan mereka yang tidak cukup banyak membuat mereka terkesan orang miskin dan tidak pantas dijarah. Setidaknya penampilan mereka mengurangi sedikit resiko kecelakaan seperti tempo hari.

Makanan yang terbawa di dalam panci sudah habis. Pakaian yang mereka inginkan dibawa oleh Rara dan Kevin. Sekarang hanya ada kain yang sedikit berguna untuk menghangatkan raga. Salman beberapa kali membujuk Tapa untuk ikut serta menghangatkan badannya, tetapi selalu ditolak. Satu-satunya kesempatan Tapa untuk menghangatkan diri ketika malam tiba dan ia berjaga di depan api unggun yang dibuatnya.

Salman terkadang juga bingung, kenapa Tapa menolak. Kain yang dikenakan olehnya cukup lebar meski jika dibayangkan memang tidak muat untuk berdua.

“Makan seadanya. Kalau tidak menemukan barang buruan lagi, terpaksa tidak makan, Man.”

“Tidak apa-apa, Mas!” seru Salman. Meski dia lapar. Rasa tanggung jawab yang diajarkan oleh tiga serangkai menular dan cepat dipelajari. Bocah yang terbilang belum dewasa bahkan belum dianggap remaja itu sudah belajar arti tanggung jawab. Dia sama sekali tidak ingin jadi beban dan selalu berusaha hidup mandiri, membantu Tapa sebisa yang ia lakukan.

“Ini sudah ada jalan. Mungkin beberapa kilometer lagi ada pemukiman!” Tapa memberi tahu Salman dengan gembira. Dia menyambut tangan Salman, menggandengnya sepanjang jalan. Rasa lelah setelah berhari-hari berjalan tidak mereka rasakan. Mereka hanya memiliki rasa khawatir dan harus saling menjaga satu sama lain. Berharap pertolongan segera tiba.

“Semoga saja bisa dapat keberuntungan,” guman Tapa lagi. Mereka percepat jalan mereka, tidak peduli dengan kondisi medan yang cukup terjal dan licin. Beberapa tanaman rambat dan rumput liar cukup membantu mereka agar tidak selamanya jalan di jalanan tanah yang licin ini. Terpeleset adalah hal yang biasa, sudah berulang kali meski tidak sampai jatuh ke tanah, keduanya terpeleset akibat tanh yang begitu licin dan jalan mereka yang terburu waktu. Bagaimana pun keinginan keduanya yaitu sampai di tempat yang layak sebelum hujan datang atau sebelum malam tiba. Hujan dan malam adalah kondisi yang kurang baik bagi Salman dan Tapa.

Jalanan mereka melambat saat melihat dua bambu di kejauhan disatukan seperti pintu oleh janur yang begitu tua. Aksara Jawa timbul di atasnya, tertulis nama desa yang akan mereka kunjungi. Salman tersenyum lebar, pun dengan Tapa. Keduanya bergegas sampai di depan gerbang yang begitu tua dan sedikit menyeramkan.

“Mas!” panggil Salman membuat Tapa kaget. Dia kaget karena keadaan yang begitu sepi dan senyap, lalu tiba-tiba Salman memanggilnya. Begitu mengerikan dan membuat kaget.

“Ada apa?” tanya Tapa ketus.

“Ini!” kata Salman memberikan kantung yang sangat berharga. Di dalamnya terdapat beberapa batang emas yang bersinar terang.

Tapa tersenyum lebar dan takjub. Seakan beberapa emas itu adalah harta yang paling berharga di dunia. Setidaknya mampu menghidupi hidup keduanya sampai Kevin menjemput mereka. Harapan Tapa akan Kevin begitu besar. Tidak tahu mengapa, ia sangat berharap Kevin kembali dan menyelamatkan keduanya.