The Time Machine

Bab 66 Ke Kantor Polisi

Bab 66 Ke Kantor Polisi

Suasana terik tidak menghalangi seorang Kevin untuk bertindak bak pria sejati. Dia tanpa rasa takut akan sengatan matahari yang jelas mampu menggosongkan kulit putih rupawannya itu menunggu Rara di parkiran tepat di depan kampus Rara berada. Dia menunggu di luar mobil, tidak berniat sama sekali beranjak dari sana. Meskipun Kevin menikah dalam kondisi yang buruk, rasa cintanya pada Rara bukanlah suatu hal yang buruk. Ia tetap menjadi pria normal yang bisa merasakan cemburu, alih-alih menunggu di dalam mobil, demi menjaga matanya untuk tetap melindungi Rara dari pria jahat, ia mengawasi pintu masuk kampus tanpa henti dan tidak berniat beranjak dari tempatnya saat itu.

Entah apa yang ada di dalam otak Kevin. Kevin sama sekali tidak masalah jika yang keluar dengan Rara itu perempuan, sayangnya jika itu laki-laki sifat serakahnya muncul. Cemburu buta dan tidak mau mengalah. Rara adalah kaca tipis yang begitu elok yang harus ia jaga. Pandangan mata dari kejauhan, jika itu lelaki busuk pun akan Kevin tindaki dengan cara apa pun. Kalau perlu mencongkel matanya.

Menikah selama beberapa hari membawa kemajuan yang besar setidaknya untuk pasangan yang kemungkinan laju pertumbuhan hubungan mereka sangat lambat. Selain Kevin sendiri yang sangat menghormati Rara, Rara juga begitu canggung sebab belum pernah sedekat itu dengan laki-laki. Jadi hubungan yang dimaksud kemajuan besar hanya sebatas pegang tangan, kaki dan rambut saja. Selebihnya masih tabu untuk dilakukan.

Kevin sendiri merasa ini sangat normal terjadi, sebab selain ia menyayangi Rara, ia juga tahu betul bahwa Rara memiliki perasaan sedih karena Tapa belum ditemukan hingga sekarang. Masalah yang paling besar saat ini adalah, keluarga Tapa sudah melaporkannya ke polisi, Adhi bahkan mengerahkan beberapa intel swasta untuk melakukan pencarian dan penyidikan tersendiri. Entah bagaimana kelanjutannya, Kevin memiliki beban, pun dengan Rara, dia belum berniat meningkatkan hubungannya dengan Rara sampai ke tahap yang lebih serius sebelum masalah Tapa dan Salman diselesaikan.

“Rara!” panggil temannya setengah berteriak. Kevin yang sangat peka langsung menoleh ke pintu, melihat sosok perempuan dengan rambut dikuncir tinggi tengah menutup mulutnya takjub.

Tidak lama kemudian muncul Rara di sampingnya, menepuk bahu perempuan itu dan bertanya, “Apa?”

“Suami kamu, kan?” tanya temannya.

Rara hanya tersenyum tipis saja, tidak tahu harus merespons apa.

“Itu suami kamu kok bisa ganteng banget!” ucapnya lagi.

Beberapa yang lain yang baru datang ikut berdiri di samping dan belakang Rara. Tidak berani mendekat dan terus menahan Rara, membiarkannya di sini sama saja membiarkan mereka memiliki kesempatan mengagumi Kevin.

“Namanya Kevin!”

“Dari jurusan Kimia!”

“Duh ganteng gitu Ra!”

“Ra, kamu nikah diam-diam, tapi romantisnya diumbar-umbar!”

Rara menghela napasnya pelan. Lalu mengenyahkan tangan-tangan temannya yang selalu menahan dirinya di sini. Sepatu kets Rara cukup baik untuk pelariannya. Untung Rara tidak suka memakai high hills atau wegdes. Membayangkan saja sudah membuat kakinya sakit.