The Time Machine

Bab 68 Penelitian Kevin

Bab 68 Penelitian Kevin

Rumah megah milik Kevin terlalu ramai. Kakaknya akan menikah dengan Abraham seminggu lagi, persiapan yang mereka rencanakan terlalu banyak dan rumit. Tidak seperti pernikahan Kevin yang ala kadarnya meski hasilnya memang cukup megah.

Kevin duduk di sofa putih menemani Kakaknya Key, ada Abraham sebagai calon suami yang duduk di samping sang kakak. Sama dengannya, Kevin pun duduk menyebelahi Rara. Mereka menikmati beberapa percakapan yang nyatanya memiliki kenikmatan yang berbeda.

Kevin dan Rara cenderung seperti air yang mengalir, tidak terlalu peduli bagaimana medan percakapan, mereka akan mengikutinya. Baik buruk suasana hati tidak dipedulikan. Bukan berarti ucapan Key sangat tidak berguna, hanya saja memang pikiran dan hati tidak di tempatnya. Rara masih terbeban dengan bayang-bayang Tapa dan Salman. Sama dengannya, Kevin merasakan perasaan seperti itu.

“Bagaimana menurutmu, Ra?” tanya Key menunjukan ipad yang ada di tangannya. Di sana ada beberapa desain baju yang sudah dipilih oleh Key beberapa bulan lalu. Persiapan pernikahan mereka memang sudah terencana jauh hari.

“Menurut Rara yang ini, Kak!” katanya lebih tenang, melihat beberapa gaun yang memang megah dan cantik. Rara memilihkan dua pakaian yang menurutnya elegan, nampak sangat cocok bagi tubuh Key yang jangkung dan putih, mirip suaminya. Pasti akan sangat menarik!

“Rara liatnya cocok sama Kakak yang tinggi. Ini juga kalau dipasangin sama pakaian Kak Abraham lebih cocok. Tinggi kalian kan hampir sama.” Rara tersenyum mengakhiri perkataannya. Dia melihat si keturunan Bosnia, Abraham, memang memiliki tinggi tidak jauh dari Key. Bahkan tingginya kurang dari tingginya Kevin. Jika berjalan hanya berdua dan tidak melihat tampang mereka, mungkin orang akan mengira Kevinlah kakaknya!

“Brahm!” panggil Key dalam bahsa Inggris, bahsa mereka berdua sehari-hari.

“Ya?”

“Menurutmu pilihan Rara bagaimana?” tanyanya dengan pelan. Dia lebih mendekat ke arah Abraham. Tabiat Key lebih berani ketimbang Kevin dalam masalah romansa. Kini Abraham bahkan sering ke kediaman Adhi tidak peduli waktu siang dan malam. Meskipun begitu batasannya masih lumayan, Abraham tidak menginap di rumah ini. Dia akan pergi setelah uruannya selesai, tetapi Kevin hampir melihatnya sepanjang waktu. Urusan pernikahan antara Abraham dan Key memang tidak bisa dikatakan sederhana.

“Bagus, Kok. Selera Rara juga bagus!” komentarnya.

“Kita langsung hubungi bagian butiknya?”

Abraham mengangguk, dia mengambil kunci mobil, menelengkan kepala memberi kode agar Key cepat berdiri.