The Time Machine

Bab 69 Motor

Bab 69 Motor

Acara pernikahan Kakak Keyla akan diselenggarakan besok. Hari minus satu sebelum hari pernikahan. Seperti Kevin, Keyla mendapatkan keharusan yang sama untuk dipingit dari Abraham. Abraham sama sekali tidak boleh menemui Keyla atau menghubungi gadis itu dengan cara apa pun. Tentu saja hal itu membuat Keyla frustrasi. Rasa rindu terus mengadu, seakan jika tidak bertemu detik itu, penderitaan Keyla tidak akan pernah putus sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, sangat lama, hampir mendekati tak terhingga!

“Kevin!” panggil Keyla saat dirinya sedang berada di teras. Meski tidak boleh bertemu, calon pengantin tetap boleh keluar dari kamar. Asal Keyla tidak pergi dari gerbang dan menemui Abraham, itu tidaklah menjadi masalah.

Masalah penjagaan perasaan Keyla dari rasa rindu juga keberadaan dirinya di rumah tentu sudah menjadi tanggung jawab setiap warga rumah Kevin. Penjaga gerbang yang jumlahnya bukan hanya satuan sudah siap siaga, takut Keyla menggunakan beberapa trik untuk kabur dan menemui Abraham sebelum pernikahannya.

Keyla melihat Kevin di teras segera beranjak, ia menatap Kevin dengan sedikit heran. Pasalnya bocah itu membawa helm. Seorang penjaga dengan seragamnya memberikan sebuah kunci motor kepadanya. Sebuah motor yang cukup keren di mata Keyla sduah berdiri di halaman rumah bak istana itu.

“Kamu pergi lagi?” tanyanya. Hari ini entah ke berapa Kevin keluar rumah dengan santai tanpa perlu berteriak meminta izin kepada Adhi. Jika itu Keyla, berpindah dari taman rumah menuju kebun saja mungkin harus lapor atau seluruh penjaga akan mengerahkan tenaga untuk mencarinya.

“Iya!” jawab Kevin asal. Dia cukup senang membuat Kakaknya kesal. Beberapa hari ini, hubungannya degan Keyla nampak lebih normal. Seperti saudara sungguhan. Meski memang saudara sungguhan, Kevin dan Keyla tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Gaya tanggung jawab dan keras kepala Keyla bertabrakan dengan sifat Kevin yang kaku dan tidak mau mengalah.

“Mau ngapain lagi?” tanya Keyla kemudian.

“Jemput isteri!”

“Rara?”

“Siapa lagi?”

Raut wajah Keyla lebih menyedihkan dan heran ketimbang beberapa saat lalu. Tentu saja Kevin menjadi lebih bingung. Ia menyerahkan helmnya kepada penjaga. Dua penjaga di motor itu juga turut waspada. Mereka berdua takut Keyla membuat ulah di hari ini. Pasalnya emosi Keyla menanti Abraham sudah hampir mencapai puncaknya.

“Ada apa?” tanya Kevin mendekati Keyla.

“Mau jemput istri pakai motor lagi? Sejak kapan kamu sama sekali tidak peduli dengan kenyamanan Rara?” tanya Keyla dengan sedikit emosi. Dia teringat kembali Abraham. Biasanya satu hari minimal harus makan siang bernama lelaki itu. Pun jika tidak, bisa vidio call. Ini hampir tiga hari tidak ada kontak. Melihat banyaknya acara pernikahan gagal tepat sebelum acara dimulai membuatnya cemas. Memang sedikit berlebihan, tetapi Keyla sungguh memikirkannya hingga ke tahap itu.

Saat melihat Kevin menjemput Rara menggunakan sepeda motor untuk pertama kalinya, Keyla berpikir mungkin itu sangat dibutuhkan. Namun, untuk ketiga kalinya Keyla melihat Kevin menggunakan sepeda motor untuk menjemput Rara sangat tidak bisa dimaklumi. Keyla sama sekali tidak bisa melogika apa yang ada dipikiran Kevin. Kevin begitu pemikir dan perhitungan, panas matahari di atas sana seharusnya ikut serta dalam perhitungannya. Mengapa tiga hari ini dia selalu menjemput Rara dengan motor?