The Time Machine

Bab 70 Persetujuan

Bab 70 Persetujuan

Kevin menatap Rara dengan gerakan meminta persetujuan. Hal yang dimengerti oleh Adhi sama sekali bukan hal yang ingin dibuat mengerti oleh Kevin. Rara mengangguk sebagai jawabannya. Dia memejamkan mata sekali selama beberapa detik, menjawab tatapan suaminya. Keyla yang mengerti situasi menegang di antara Kevin dan Rara hanya bisa mendengus dan berdiri.

“Kalau mau bicara yang penting mendingan di ruangan Papa aja!” kata Keyla lugas tanpa merasa salah sedikit pun. “Abraham di rumah yang Papa siapin sendirian, kan?”

“Ada calon ibu mertuamu!” kata Adhi dengan senyuman yang cukup menyebalkan di mata Keyla. Keyla berdiri, masuk ke dalam rumah mencari beberapa orang yang ia kenal. Akan lebih baik jika ia menemukan calon mertuanya. Ada Papa Abraham di sini mengurus beberapa hal penting untuk acara besok. Mendekati calon Papa mertua sama saja mengikat keharmonisan dengan calon suami, pendapat Keyla absolut.

Adhi menatap dengan heran ke arah Kevin dan Rara. Setelah itu barulah ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Keyla ada benarnya.

“Apa kata kakakmu dengarkan saja. Jika ingin berbicara silakan ke ruangan Papa. Papa juga mau baca proposalmu.” Perkataannya itu cukup jelas, Adhi berdiri sembari bergumam, “Mengapa perlu bantuanku untuk mengalihan mesin itu?”

“Ayo!” ajak Kevin kepada Rara. Bagaimana pun apa yang ingin dijelaskan oleh Kevin adalah sesuatu yang bersangkutan dengan keluarga ini dan Rara. Bukan hanya masalah Kevin sendiri, tetapi menyangkut harga diri Rara, pun dengan keselamatan adik asuhnya serta Tapa yang dinotice hilang boleh keluarganya.

Ketukan pintu yang Kevin lakukan sedikit tidak berguna sebab Adhi sudah menyilakannya untuk masuk saat di teras tadi. Akan tetapi sopan santun dan tindakan tanduknya memang sudah terbentuk sejak lama, apalagi Kevin sebelumnya memang sekaku itu dengan ayahnya. Hanya setelah menikah dan ada Rara saja yang membuat emosinya sedikit reda, para pelayan di rumah ini pun akan menyadari bahwa suasana tegang dan kaku serta panas di rumah ini berubah menjadi lebih hangat dan menusiawi. Tidak ada panas tatapan mata pun tidak ada dingin keheningan yang mencekam dan mengerikan. Semuanya sudah lebih manusiawi, hubungan antara ayah dan anak yang lebih normal meski sedikit ada halangan tipis yang orang luar akan susah memandangnya.

“Ayo masuk, Ra!” pinta Kevin diambang pintu. Rara masuk dan menutup pintu. Keduanya berjalan dan duduk di depan Adhi. Adhi sudah membaca proposal yang diajukan oleh Kevin.

“Kamu benar-benar ingin melanjutkan penelitian mesin ini?” tanya Adhi dengan cukup serius. Pasalnya itu adalah peninggalan bangsa Jepang yang ada di Indonesia. Meminjamnya untuk diteliti saja mungkin akan sangat susah, apalagi mengakuisisi.