The Time Machine

Bab 71 Rindu

Bab 71 Rindu

Dalam kemarahan dan kebingungannya, Adhi memilih menenangkan dirinya. Ia masih tidak terima dengan apa yang diutarakan oleh Kevin. Namun demikian, keadaan dan pengakuan Rara membuatnya berpikir lebih jernih. Ia mencoba menenangkan dirinya dan melogika apa yang terjadi sebelumnya.

Ruangan yang tadinya begitu mencekam semakin menegangkan. Pintu ruang kerja Adhi sangat tertutup. Untuk menjaga keamanan dan kenyamannya sendiri, ruangan ini kedap suara. Pun sangat terjaga keamanannya. Ada satu telepon yang bisa mengarahkan ke seluruh pelayan dan penjaga rumah kalau Adhi butuh sesuatu. Kini sepertinya mereka tidak dibutuhkan, tetapi kondisi Adhi sedikit mengenaskan.

Rambutnya yang terpotong rapi ditumbuhi satu dua uban. Kevin yang duduk menunduk sambil bercerita lalu diam itu mendongak, menatapi uban sang ayah yang sudah mulai terlihat. Meski ayahnya bisa memilih ke salon, ia tidak akan pernah mau menghapus jejak pertanda tuanya itu.

Kevin kemudian menatap Rara. Rara masih dalam kondisi canggung disertai ketakutan yang nyata. Tangannya memainkan kain gamis yang ia kenakan. Rara tidak pernah menyangka menceritakan kisah konyol ini pada orang lain yang seharusnya tidak terlibat, terlebih lagi dia adalah mertuanya sendiri. Selain ketakutan, rasa malu juga menyatu di dalam pikirannya.

Dalam ruangan yang tidak diterangi cahaya lampu itu, Kevin memindahkan tangannya ke atas paha Rara. Dia mengambil tangan Rara, menggenggamnya erat sebagai bentuk perlindungan dan ketenangan. Kevin menoleh ke arah Rara sekali lagi dan tersenyum lalu menggeleng. Rara tahu, Kevin sedang menyuruhnya untuk tidak terlalu khawatir. Cahaya matahari yang muncul dari baik jendela itu menerangi lebih terang di bagian terentu. Pentricor begitu unik mengembang, mengepul seperti debu beterbangan.

“Begini saja!” ucap Adhi pada akhirnya membuat napas mereka yang seakan tertahan kembali longgar. Adhi pun sama saja. Jantungnya sudah terpacu dua kali lipat. Melihat semua masalah yang sedang terjadi membuatnya lebih pusing dari sekedar menghadapi Keyla yang kadang kala berbuat keanehan.

“Kalian pergi ke rumah Tapa saja dulu. Belikan beberapa benda untuk sedikit menghibur mereka.”

“Semacam sogokan?” gumam Rara tidak mengerti.

“Beda Ra. Kita berkunjung ngga memberi apa-apa justru kita yang malu terlepas mereka tidak mau dan tidak perlu dengan barang kita.”

Dalam ketegangan itu Rara merengsek mendekati Kevin dan berbisik, “Tidak masuk akal. Ibu Tapa jelas bertanya macam-macam nanti.”

“Anggap saja kunjungan pengantin baru!”

Rara mengedikan bahu, matanya melirik naik ke arah Adhi. Di sana Adhi sudah lebih baik. Tangannya menyangga meja, tegak lurus dengan dahinya yang disangga.

“Apa kami perlu memberikan berita yang kami sampaikan pada ayah?”