The Time Machine

Bab 74 Harapan

Bab 74 Harapan

Sejak di tengah perjalanan pulang Kevin sudah membuat sopir diburu waktu. Jalanan yang makin jauh dari kantor makin lengang sebab malam membuat Kevin semakin mengejar waktu, menggesa sopir yang sudah gugup tetapi tetap senang itu. Sang sopir tentu saja senang, selain karena ini hanyalah sebuah perhatian Kevin untuk pulang, dia juga membayangkan dirinya yang perhatian kepada sang istri. Jika lebih diperhatikan lagi, kekhawatiran yang berujung ceroboh dan gegabah seperti itu nantinya akan menjadi kenangan menyenangkan. Berbeda waktu menikmatinya, berbeda rasa perasaannya.

“Usahakan secepatnya sampai!” kata Kevin mengakhiri keluhan dan percakapannya pada Pak Sopir. Dia memandangi jalanan lengang yang dipenuhi lampu jalanan. Membayangkan lampu-lampu iatu berkelip, mengingat kunang-kunang yang dilihatnya pada zaman Majapahit.

Meski tidak setiap malam ada hal menakjupkan, perjalanannya di Majapahit memang sebegitu dekatnya dengan alam. Bukan hanya ingatan pada manusia yang berakhlak mulia, tetapi juga mereka yang memakan korban, pun dengan para hewan lucu ataupun beringas. Semuanya menyatu di pikiran Kevin, melayangkan sedikit ingatannya tentang kecemasanan dia terhadap Rara.

Kevin membayangkan, bagaiaman keadaan Salman dan Tapa. Apakah makanan mereka masih cukup? Apakah tempat tinggal mereka bisa diatasi. Masih berjalan mencari, menyerah dan menetap di suatu tempat atau malah sudah bertemu dengan Sunan Kalijaga. Apa pun itu, Kevin berharap tidak dalam bahaya.

“Vin!” panggil Adhi pada Kevin. Memecah keheningan yang baru saja dimulai.

Kevin menoleh ke samping. Memandang ayahnya yang tengah memanggil itu. Padahal sedari tadi diam.

“Ada apa?” tanyanya pada sang ayah.

Raut muka yang tadinya serius kini berubah humoris membuat Kevin sedikit takut. “Papa pikir kamu sama Rara mau nunda dulu, eh malah udah cepat banget isinya!”

Kevin hanya terkekeh mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya. Ingin menyanggah, tidak bisa mengakui secara gamblang pun serasa sedikit malu. Dia tersenyum, makin tidak sabar mempertipis jarak jalanan menuju rumahnya.

“Papa keberatan?” tanya Kevin setelah hening. Jaraknya dari urmah semakin dekat.

“Mana ada? Kenapa nanya kaya gitu?”