The Time Machine

Bab 75 Purnama

Bab 75 Purnama

Ruangannya sudah tidak bisa dikatakan rapi. Lampu yang menyala terang tidak membuat otaknya ikut menerang. Saking frustrasinya, rambut yang biasanya rapi itu ikut berantakan. Berkali-kali Kevin menyugarnya ke belakang, lalu mengacaknya dengan sebal. Dia tidak tahu sama sekali bagaimana menangani semua ini dengan tenang. Sepertiya setiap hari selalu bertambah saja beban pikirannya. Dia sebal, dia bebal, dan dia kesal.

Kevin mendengkus, dia melihat malam di luar jendela. Sangat cepat. Begitu tidak mau melambat. Perputaran waktu siang dan malam tidak lagi normal. Meski sama dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu. Tetap saja dalam benak dan pikirannya, semua itu sangat cepat. Mungkin tidak lebih dari menit-menit yang berganti.

Kevin terduduk di kursi putar. Dirinya memandangi sepatu kets yang sengaja dipakai agar lebih mudah dan leluasa. Tidak terlalu formal. Meski Kevin dikenal sebagai orang yang dingin dan kaku dari luar, sikapnya tak sekaku itu. Ia bahkan lebih menyukai kebebasan yang fleksibel. Mendesah kasar, Kevin bengkit mencoba mencari inspirasi. Dipandanginya pekerjaan yang sudah teronggok bagaikan sampah yang tidak berguna.

“Tapi sampah kalau di daur ulang juga berguna,” batinnya memberontak. Menolak menyerah. Harus maju pantang mundur demi sahabat yang sudah setia menemani kegaguannya selama ini.

“Tapi sudah dilihat tidak ada perkembangan,” kata sisi lain dalam pikiran laki-laki itu. Ia tak mau salah, ingin mencoba membuat Kevin menyerah.

Tak tahu apa yang harus diperbuat. Kevin mengentakan kaki. Dia teringat Rara yang sedang berada di ruangan kerjanya. Memejamkan mata, Rara pasti khawatir, dia pasti belum mandi, lebih-lebih ini sudah malam. Bagaimana jika benar tidak mandi? Bau badan akan berpengaruh kepada tubuhnya, kan?

Kevin cemas. Hal paling penting saat ini juga sudah larut. Waktunya makan malam. Memandangi jam, masih ada waktu untuk makan. Daripada memelototi pekerjaan yang membawa kebekuan pada otaknya, Kevin lebih memilih membereskannya dan pergi. Dia masuk ke dalam lift, masuk terlalu jauh dan ingin naik ke lantai tujuh dari lantainya saat ini. Di sana ada ruangan kerjanya, cukup luas hingga Rara harusnya merasa nyaman dan aman. Namun tetap saja, namanya juga Kevin. Dia tidak ingin membuat Rara repot. Rara sedang hamil. Selain dia sendiri yang memang mandiri, Kevin harus lebih perhatian dan sedikit memanjakannya.

“Huh!” Dia membuang napasnya kasar. “Semoga Rara baik-baik asja,” harapnya. Sedikit lucu kegelisahan yang ia rasakan. Sebab apa-apa yang terbesit dalam akal tidaklah mungkin menjadi nyata. Kantor papanya cukup lengkap fasilitas dan keamanannya.

Beberapa pekerja yang baru masuk sedikit menahan tawa. Pasangan suami istri baru itu sedikit lucu. Kevin terlalu sibuk dengan pekerjaan, Rara kadang menemani sambil mengerjakan tugas. Satu khawatir istrinya kelelahan, yang lainnya khawatir suaminya stres karena pekerjaan. Sungguh serasi.

Sesungguhnya Kevin menyadari tatapan dan kekehan mereka. Pun menyadari beberapa dari mereka menahan tawa. Namun, kekhawatirnanya pada Rara tidak bisa dibandingkan dengan hal-hal sepele. Dia benar-benar merasa cemas. Tidak bisa memikirkan alasan mereka melakukan itu. Lain kali jika ingin naik turun Kevin harus masuk lift eksklusif khusus untuknya saja. Jadi tidak terganggu dengan hal remeh yang menurutnya tidak perlu dipikirkan.