The Time Machine

Bab 76 Salman dan Tapa

Bab 76 Salman dan Tapa

Hari demi hari sudah terlewati begitu cepat. Kevin selalu memusatkan perhatiannya pada Rara dan juga pada mesin peninggalan penjajahan Jepang itu. Adhi sebagai kepala keluarga, selain mengurus beberapa bisnis yang sudah cemerlang di puncaknya juga sekarang turut sibuk membantu Kevin.

Mesin itu sungguh membawa sial. Membawa kemarahan dan ketidakpuasan bagi Adhi dan Kevin. Meski Adhi bukan seorang ilmuwan murni seperti Kevin, tetap saja dia cukup pintar untuk mengatasi hal serupa. Mengapa dia tidak bisa menemukaan petunjuk satu pun selama penelitiannya.

Kevin bahkan sudah sangat frustrasi. Rambutnya yang gondrong makin panjang. Adhi pun turut sama. Sudah hal biasa ketika rapat besar atau pertemuannya dengan klien, sepasang lelaki dari anak dan ayah itu akan mengikat rambut rapi, membawa keserasian unik yang nyata. Keduanya tidak malu dan tidak pula memalukan, meski Adhi kadang berpikir itu kurang sopan.

“Arghh!” keluh Kevin. Ini sudah ketiga kalinya ia mengulang hal yang sama dengan hasil yang sama pula. Tidak bereaksi. Sesungguhnya Kevin sedang sangat kesal. Jika dia tidak ingat si Thomas Alfa yang seperti orang bodoh, tetapi penemuannya begitu cemerlang, saat ini mungkin Kevin akan pulang dan rebahan saja. Mendesah panjang dan guling-guling di atas seprai sebagai bentuk penyerahan diri pada Yang Kuasa karena tak sanggup menyelesaikannya.

“Ya Allah!” sambatnya lagi.

Saat sampai di rumah larut malam, Kevin pun mendesah kasar. Berulang kali Rara membuatkan minuman di malam hari. Untung saja istrinya selalu sabar menghadapi Kevin. Kadang Kevin terlalu kasihan dengan Rara. Rara yang sedang hamil memang tidak terlalu dimanja olehnya. Namun, saling perhatian yang dilontarkan dua orang itu makin membuat keduanya menjadi pasangan yang pengertian, yang romantis namun tidak mengumbar dan bahagia.

“Kamu makan malamnya sudah belum, Mas?” tanya Rara. Sekarang sudah jam sembilan. Harusnya tidak ditawari makan lagi sebab sudah melewati jamnya. Namun, Rara tidak peduli, perut Kevin harus penuh sebelum tidur atau tidurnya tidak nyenyak. Sudahlah kadang kala malam bangun karena kehamilannya, pun harus bangun karena pergerakan Kevin yang kelaparan sungguh tidak nyaman.

“Aku sudah tadi, bareng karyawan yang lembur di kantin kantor!” ungkapnya. Dia mendekati Rara yang sedang meminum susunya. “Kamu mau tidur sekarang?” tanya Kevin pelan.

Rara mengangguk, lalu mengelus pipi Kevin pelan. “Jangan lupa bebersih dulu, abis itu salat sunah ya!”

Kevin mengangguk. dia mencium pipi kanan Rara dan membantunya naik ke atas. Ke kamarnya. “Kamu sudah salat?” tanya Kevin.

“Sudah dong!”