The Time Machine

Bab 77 Maaf

Bab 77 Maaf

Bandara Seokarno-Hatta menjadi titik pemberhentian terakhir, Kevin sudah turun dari pesawat. Dia ingin menemui keluarganya dengan cepat. Ilmu yang didapatkan memang baru, apa-apa yang ada di sana memang belum pernah ia coba. Rasa frustrasinya selama beberapa waktu ini membuatnya sedikit kepuasan mengikuti seminar itu. Ingin sekali rasanya ia mencoba langsung. Akankan berhasil dan bisa membuat Tapa kembali? Atau hanya omong kosong belaka dari pembicara. Bagaimana pun apa yang terjadi selanjutnya tetap menjadi ketetapan Allah sebagai Tuhan pemilik semesta ruang dan waktu yang ada.

“Kevin!” panggil Rara. Kevin menoleh, melihat istrinya dengan senyuman mengembang. Pun Rara yang langsung berlari memeluk Kevin. Hampir satu minggu Kevin pergi. Dia tidak tahu lagi bagaimana perasaannya jika Kevin pergi berbulan-bulan. Pasti akan menyesakan.

“Kamu kenapa?” tanya Kevin bingung.

“Kangen!” jujur Rara membuat Kevin terkekeh.

“Masuk Vin!” pinta sang ayah. Adhi ternyata ikut menjemput pula. Sang sopir membukakan pintu, membuat Kevin dan Rara duduk di belakang. Sedangkan Adhi masih setia duduk di bagian depan. Di balik kemudi adalah tempat sang sopir.

Sopir itu masuk hendak menyalakan mesin.

“Langsung ke kantor aja,” titah Kevin tidak tahu aturan. Dia masih sangat lelah, pun Rara yang sangat merindukan, dan Adhi yang sangat tidak tenang. Sang Sopir tergugu. Begitu streskah Tuannya itu. Dia masih melongo di balik kemudinya. Menunggu instruksi selanjutnya dari sang Tuan Besar.

Adhi menoleh ke belakang, memandangi Kevin dengan ragu. “Ini sudah sore Vin!” peringatnya. Adhi memandang Rara yang menatapnya dengan senyuman, lalu memejamkan mata beberapa detik mengiyakan permintaan Kevin. Adhi hanya geleng kepala melihat sebegitu perhatian dan sebegitu pengertiannya Rara.

“Aku sudah tidak sabar mau coba dulu,” kilah Kevin mencari alasan. Dia hanya tidak sabar dan merasa lelah dengan semua ini. Dia juga merasa bersalah atas apa-apa yang terjadi kepada Tapa. Bagaimana pun jika dulu ia tak bersikukuh pergi, Tapa tak mungkin ada di sana. Pun jika ia lebih logis dan tidak egois, Tapa dan Salman masih berdiri di sini sedang mengenang bagaimana pengalaman perjalanan mereka. Intinya, manifestasi rasa bersalahnya menjadi sikap yang egois saat ini. Kevin hanya menginginkan tubuhnya segera melakukan pertanggungjawaban agar jiwanya tenang. Itu saja!

“Sudah mau maghrib?” tanya Adhi sekali lagi.

“Tidak apa-apa, Pa. Kita salat di kantor aja,” kekehnya dengan penuh ketegasan. Rara mengangguk menyetujui. Akhirnya Adhi pun tidak bisa berbuat apa pun.

“Kita jalan ke kantor, Pak,” pintanya pada sopir. Sang sopir mengangguk, lalu berjalan membelah jalanan yang tak begitu petang, tidak pula terik dan cukup terang menuju kantor milik Adhi. Jalanan yang masih ramai membuatnya sedikit terhambat di mana-mana. Untungnya tidak membuahkan kemacetan panjang dan lama. Untung saja!