The Time Machine

Bab 78 Lelaki Tua

Bab 78 Lelaki Tua

Entah mengapa, rasa sedih dan tidak terima mulai merenggut dan menjalar di hati Tapa. Dia tidak tahu mengapa, dirinya mulai merasakan rindu yang luar biasa, selepas salat duha di musala tadi, Tapa memerlukan udara segar. Dia tidak tahu lagi ke mana, asal kaki melangkah, ia akan menurutinya.

Melewati kediaman bagian luar milik Sunan Kalijaga di Demak tidak cukup. Tapa berjalan lurus terus tidak tahu mengapa ingin terus berjalan. Satu pedukuhan sudah terlewati. Dua pohon kapuk randu sudah ia lewati. Kebun salak yang tidak seberapa jumlah pohonnya pun sudah ia lewati. Kini bentangan sawah membentang di sepanjang pandangan matanya. Gubug satu dua di tengah sawah dipenuhi beberapa ibu-ibu dan juga bapak-bapak. Para istri terlalu sopan dan berbakti, membantu para petani dan pekebun serta menyiapkan makan siang untuk mereka.

“Masya Allah!” pujinya pada Allah. Berharap segala pujinya dapat diterima. Memejamkan mata menikmati semilir angin yang ada, Tapa tidak tahu menahu perasaan seperti apa yang sedang ia alami saat ini. Jantungnya berdetak lebih keras dan cepat, meski begitu dia tidak tahu kekhawatiran macam apa yang muncul. Perutnya mulas, rasanya akan ada sesuatu yang besar terjadi, tetapi Tapa sendiri tidak tahu apa itu.

“Apa gara-gara aku pergi belum izin, ya?” gumamnya begitu pelan. Tapa mengiyakan saja perasaan itu, lalu berbalik hendak ke tempat pesantren. Mungkin perasaannya ini bersangkutan dengan mereka.

Namun, melihat sebuah rumah berbentuk joglo dengan latar dipenuhi batu sedang yang sudah usang dan bersih. Tapa tergugu. Perasaanya sangat cemas dan gugup. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di rumah itu. Rumah yang terpisah puluhan meter dari rumah lainnya, saling dekat dengan hutan bambu dan bentangan sawah di sana. Rumah itu sangat terawat. Pohon kelapa kecil tumbuh subur dengan janurnya yang kuning saling menjulur. Di depan terasnya penuh dengan tanaman bunga dan juga tanaman kecil. Di sampingnya penuh kebun bumbu mulai dari bawang hingga cabai.

Tapa memberanikan diri mendekat. Pemilik rumah tidak terlihat meski rumahnya terawat. Tempat duduk terbuat dari kayu yang direndam memperkuat bagian dalam. Bagian dalam dan teras hanya disekat tembok setinggi pinggang. Sentong kanan kiri dengan beberapa ruang yang ada di rumah itu tertutup tembok anyaman bambu yang sangat rapi. Pilinan serat yang menguatkan tiang-tiang penyangga rumah begitu rapi dan indah. Beberapa ukiran nampak sangat serasi.

Tapa mulai jauh memasukinya. Dia menaiki undakan tangga teras pertama menuju ruang tamu yang memang terbuka tidak memiliki pintu.

“Assalamualaimum!” serunya. Tidak ada balasan hingga di undakan paling atas. Ia melihat seorang lelaki dengan jubah putih khas orang Arab. Seperti abaya. Atau seperti balutan orang yang akan haji? Tapa tidak fokus di situ, ia fokus pada wajahnya yang memancarkan senyuman yang begitu menenangkan.