Tison dan Rolin

Bab 12 Parfum Yang Dikirim Ana

Semua pria didunia memang sama.

Bahkan pria setampan apapun juga sama!

Jika Tison benar-benar berani menyuruh dirinya untuk menjadi pedamping tidurnya, maka Rolin akan segera pergi. Sangat banyak cara untuk membalas dendam pada Rena, tidak hanya Tison seorang.

Sudut bibir Rolin membangkitkan senyuman yang sinis, tidak disangka, ternyata ayah dari anaknya tidak ada bedanya dengan pria diluar. Juga merupakan pria yang berpikiran aktivitas tubuh bagian bawahnya.

Tison mengangkat alisnya dan bersandar. Menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi kerjanya.

Dia menatap wanita didepan dengan tatapan yang malas, riasan yang menawan, tubuh yang tinggi dengan lekukan yang anggun.

Dari kesembronoan dan inisiatif untuk menciumnya ketika pertama kali bertemu dengannya. Seolah-olah sedang memberitahu Tison bahwa dirinya adalah wanita yang ingin menggodanya.

Tapi saat ini, mata Rolin yang mengantuk muncul kilatan marah. Pipinya yang putih sedikit memerah.

Bukan karena malu, tapi karena marah.

Menarik.

Bibir tipis Tison berkata dengan ringan, "Benar yang Rian katakan, asistenku tidak perlu menemaniku tidur."

"Kalau begitu kenapa Presiden Tison masih menyuruhku tidur denganmu?" Rolin melipat kedua tangannya. Mana mungkin hanya menemani tidur begitu sederhana? Apakah dia menganggap dirinya adalah anak kecil.

Tison tahu jelas bahwa Rolin salah paham dengan maksudnya, namun ia merasa sangat lucu mengerjai wanita didepannya ini.

Dia menekan remote kontrol, pintu ruang istirahat dalam ruang kantornya yang terbuka secara otomatis. Ada ranjang besar yang didekorasi dengen mewah. Ada lemari kaca anggur yang transparan, sofa, lemari baru dan lainnya. Dapat terlihat bahwa ia sering menghabiskan waktu dengan wanita di dalam pada saat hari kerja!

"Presiden Tison, aku benar-benar tidak menyangka kamu yang telah menciptakan kejayaan perusahaan terkemuka di dalam negeri, ternyata sama dengan orang lain yang membutuhkan bawahan wanitamu untuk menemanimu tidur."

Tison menaikkan kelopak matanya, memandang Rolin dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Beberapa detik kemudian. Dia berdiri dan perlahan berjalan ke depan wanita itu, "Aku tidur di ranjang, kamu tidur di sofa."