Tison dan Rolin

Bab 20 Untuk Pertama Kalinya, Ana Kehilangan Ketenangan

Jika Rolin mendengar rumor dalam perusahaan, dia pasti akan mencibir.

Sungguh lucu sekali , dia tidak tertarik pada Tison!

Sebaliknya Tison menggunakan kelebihannya untuk "mengancam" dirinya untuk menemaninya beristirahat setiap hari!

Rumor beredar semakin luas di kantor, menjadi semakin heboh!

Penampilan Rolin memang tidak terlihat seperti wanita yang baik. Dia sangat agresif, senyumannya dapat merayu jiwa pria.

Di dalam Grup Lianto, entah ada berapa banyak karyawan pria yang menunggu Rolin datang ke kantor untuk check in ketika mereka melewati Lobi setiap hari.

Siapa yang tidak suka wanita cantik, apalagi wanita cantik dengan tubuh tinggi dan tampang yang indah sepertinya.

Jika bukan karena Asisten cantik ini pindah ke ruangan Presiden Tison. Karyawan pria lajang ini sudah sejak awal mengantri untuk mengejarnya.

Di depan gedung Grup Li yang tinggi ini, sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan pintu utama.

Puluhan pengawal turun dari kendaraan niaga dibelakang mobil mewah berwarna hitam ini. Setelah memastikan tidak ada bahaya disekitar, mereka menuju tempat duduk penumpang samping pengemudi, "Asisten Rian, tidak ada masalah disekitar."

Rian mengangguk dan turun dari mobil untuk membukakan pintu untuk Tison.

Kaki ramping yang terbungkus celana jas dan jas kustom buatan tangan dari Italia yang disetrika dengan rapi.

Tidak ada ekspresi di wajah pria tampan itu, dia melihat sekeliling untuk melihat bawahan yang menyambutnya. Ia menarik kembali pandangannya, berjalan memasuki gedung tanpa ekspresi yang tersenyum.

Karyawan yang masih membahas Rolin melihat Presiden Tison datang, mereka terdiam seketika.

Ada beberapa karyawan pria yang tidak peka terhadap suasana masih membahas penampilan Rolin, "Hei, bayangkan kaki dan dada Asisten Ana.....heheheh, bagaikan tubuh seorang supermodel."

Tison mengernyit dan melirik ke arah karyawan pria itu dengan tatapan dingin.

Rian segera mengerti apa yang dimaksud bosnya.

"Presiden Tison, tenang saja, aku akan menangani masalah ini."

Rian yang berada di sisi Tison paling mengerti suasana pria ini saat ini.

Ketika Tison baru saja mendengar kelompok orang itu menggosipkan Asisten Ana, udara sekitarnya menjadi dingin seketika.

Keringat samar muncul di dahi Rian, menatap beberapa rekan yang tak tahu takut itu dengan tatapan sedikit kasihan.