Tison dan Rolin

Bab 26 Silahkan, Presiden Tison

Rolin sudah bergadang selama semalaman, sebelum datang ke studio, dia sudah merias wajah lebih dulu.

Concealer menyembunyikan lingkaran hitamnya. Saat ini, Rolin terlihat bersinar. Dengan kakinya yang ramping, ia bersandar ke dinding dengan malas. Dia mengeluarkan kartu kunci dari saku jasnya yang dengan otoritas tertinggi di perusahaan yang diberikan Tison kepadanya. Kartu itu melintas di depan petugas.

"Presiden Tison memintaku untuk membuat parfum." Bibir merah Rolin yang indah terbuka dengan lembut, nadanya lembut dan menawan. Persis seperti yang dirumorkan, wanita tak tahu malu yang menggoda Presiden Tison!

Dengan tatapan menawan ia melirik petugas yang terbengong menatapnya, ia tersenyum berkata, "Jika kamu tidak percaya, kamu bisa menelepon dan menanyakannya pada Presiden Tison?"

Petugas merasa marah, wanita ini benar-benar tidak tahu malu, bahkan ingin menggoda sesama wanita!

Dirinya tidak akan tertipu olehnya!

Bagaimana seorang asisten bisa membuat parfum? Kalau begitu, bukankah perfurmer perusahaan akan bertambah satu. Apakah Ana bisa lebih profesional dari perfurmer profesional?

"Tunggu sebentar, aku akan meneleponnya! Jika kamu membohongiku, maka jangan harap masalah ini akan selesai begitu saja!"

Rolin mengangkat bahunya, bersandar di dinding dengan acuh tak acuh.

Kartu di tangannya dimainkan berulang-ulang olehnya.

Kartu yang diberikan Tison padanya tidak ada gunanya, bahkan masih harus dipertanyakan oleh petugas.

Beberapa menit kemudian, petugas menutup telepon dan memberi jalan pada Rolin.

Rolin tersenyum dan bertanya dengan bercanda, "Sudah menelepon Presiden Tison? Aku tidak berbohong, bukan?"

Petugas sangat emosi.

"Apakah kamu sedang mengejekku? Bagaimana mungkin kamu pantas berbicara dengan Presiden Tison!"

Ia memutarkan bola matanya kearah Rolin, "Cepat masuk, jangan habiskan waktu orang lain! Dasar Presiden Tison, apakah semua orang bisa membuat parfum...bahkan Nona Rena saja tidak diperbolehkan menggunakan studio parfum."

Bisik petugas itu.

Rolin menatapnya, tidak berbicara. Memasukkan kembali kartu kedalam sakunya dan berjalan pergi dengan sepatu hak tingginya.