Tison dan Rolin

Bab 48 Mencari tahu rahasianya

Masih tersisa aroma anggur dalam mulut pria itu.

Rolin menciumnya tiba-tiba. Setelah dia merasakan aroma di bibir Tison, seketika pikirannya meledak. Ia berpikir mampus sudah, dia punya ratusan cara untuk menjelaskan, bagaimana bisa dia memilih cara yang paling bodoh.

Seperti yang dikatakan Tison, dia belum pernah mencium siapa pun, keterampilan berciumannya sangat buruk.

Satu-satunya pengalaman berciuman semuanya berhubungan dengan Tison dan semua di dominasi oleh dirinya.

Jika benar-benar membiarkan dia mengambil inisiatif, dia hanya memiliki gaya saja, tidak memiliki pengalaman sama sekali.

Berulang kali mengulang kembali film cinta dalam pikirannya, bagaimanapun itu tidak dapat menyamarkan dirinya yang tidak pernah melakukan itu.

Sebuah kejutan melintas ditatapan Tison dan kejutan itu menghilang dengan cepat. Tison melepaskan sabuk pengamannya, tangannya menekan perlahan dan melepaskan sabuk pengaman Rolin lagi. Dia berbalik dan kembali ke kursi pengemudi. Wanita itu duduk dipangkuannya.

Lipstik di bibir Rolin setengah terhapus karena ciuman tadi.

Lipstik itu menjejak di bibir Tison.

Pikiran Rolin agak kosong.

Posturnya saat ini, memaparkan sebagian besar pahanya.

Desain gaun itu membuat orang berkulit putih tidak dapat bersembunyi.

Satu tangan Tison merangkul pinggang Rolin dan satu tangannya lagi menyeka bibirnya.

Ternyata benar ada lipstik dan dia menatap jejak merah di tangannya dengan tenang.

"Apakah ini jawaban yang kamu berikan kepadaku?" Suaranya terdengar rendah, dia menaikkan pandangannya dan menatap wanita yang wajahnya kaku dan merona.

Jejak kebingungan muncul di mata Rolin dan dia segera menyadari bahwa pria itu sedang menanyakan alasan dia tinggal disisinya.

"Presiden Tison, alasan aku tinggal di Grup Lianto karena..."

Belum selesai ia berbicara, tangan yang melingkari pinggangnya sedikit kaku dan kata-katanya ditahan dibibirnya.

Aroma anggur perlahan dipindahkan melalui mulutnya dan oksigen di paru-paru dengan cepat menyusut.

Ciuman pria itu tidak terburu-buru dan tidak lambat, seolah-olah sedang menunggu dia beradaptasi, sengaja memperlambat ritmenya.