Unconditional Love

Bab 15 Penolakan Dila

Bab 15 Penolakan Dila

Setelah melakukan salat malam bersama istri. Gala memunajat doa-doa terbaik untuk keluarga kecilnya. Terutama untuk sang bayi dan ibunya. Besar harapan Gala, anak mereka kelak akan mengikuti jejak ayah atau ibunya. Menjadi anak yang soleh dan solehah. Baik Gala maupun Dila, keduanya saling mendoakan, melangitkan nama pasangan masing-masing.

Setelah melaksanakan salat malam, Gala mengatur posisi duduknya, tergambar keresahan pada wajah yang menawanitu. Dila yang melihat tingkah suaminya yang tidak biasa itu menjadi curiga. Tidak biasanya Gala menunjukkan keresahan sedemikian besar pada Dila.

Laki-laki itu terlihat memikul beban yang amat besar. Dila yakin, ada yang sedang dipikirkan oleh suaminya. Jika biasanya Gala akan melantunkan bacaan ayat suci Al-Qur’an setiap kali mereka selesai salat. Maka kali ini, Gala hanya duduk, diam dan menatap Dila berulang kali.

Dila memberanikan diri untuk bertanya, Ia tidak ingin menebak apa isi kepala suaminya. Bisa menjadi fitnah jika hal yang Ia pikirkan tidak benar. Dila tidak ingin berdosa. dengan memberanikan diri, akhirnya Dila membuka suara, bertanya pada Gala.

"Ada yang sedang mengganggu fikiran Mas, yah?" tanya Dila hati-hati.

Gala masih diam, terlihat menimbang-nimbang apakah Ia harus mengatakan masalahnya pada sang istri atau cukup dirinya saja yang tahu. Dila sedang hamil besar, Gala tidak ingin membebani pikiran istrinya.

Tetapi, Gala tidak punya pilihan lain. Satu-satunya jalan adalah, mengatakan isi kepalanya pada Dila. Mereka sudah berjanji untuk berbagi masalah satu sama lain. Setelah mengucap puji-pujian pada Allah SWT, Gala menghembuskan napas pelan.

"Begini Dek, Mas dapat panggilan jihad ke Sudan," ucap Gala hati-hati. Ia sangat takut jika sampai Dila terguncang batinya. Akan berpengaruh buruk pada bayi mereka nanti.

"Mas, berencana ikut?’ tanya Dila. Matanya mulai berkabut. Entah mengapa efek kehamilan sangat memengaruhi moodnya. Dila bahkan merasa heran pada dirinya sendiri. Ia akan sangat cepat menangis hanya karena hal-hal sepeleh.

Dila berusaha menahan air matanya. Berulang kali, istri Gala itu mengusap matanya dengan kasar. Menahan isakan dan juga air mata yang terus memberondong ingin keluar. Dila mengigit bibir manahan tangis.

Gala yang menyaksikan hal tersebut cepat-cepat menarik sang istri ke dalam pelukannya. Ia tidak menyangka efeknya akan sebesar ini. Kecupan-kecupan sayang mendarat di kepala Dila. Meski Ia masih terbungkus mukenah, kecupan sayang Gala tetap terasa begitu manis.