Unconditional Love

Bab 44 Kepastian

Bab 44 Kepastian

Beberapa hari setelah pernyataan Gala menerima proposal Naswa, orang tua Gala mendatangi rumah orang tua Nasywa. Mereka membicarakan hal yang lebih serius. Dalam hal ini mereka berniat mengkhitbah Nasywa. Gala sudah menyampaikan bahwa apabila Nasywa sangat berani mempermalukan diri menyampaikan proposal taarufnya, Setidaknya Gala bertindak gentleman mengajukan rencana pernikahan.

Sebelum kedua orang tuanya datang ke rumah Nasywa, Gala berinisiatif menemui Nasywa di Rumah Sakit. Dia menjemput Nasywa ke sana dan mereka pergi bersama-sama ke sebuah restoran yang tak jah dari Rumah Sakit. Meskipun enggan dan terpaksa, Gala membawa Sarah ikut serta. Tidak ada pilihan lain, dia tidak mungkin pergi hanya berdua Nasywa. Mereka belum resmi menjadi muhrim.

Untunglah, meskipun Sarah sering menyebalkan dan kepo tingkat tinggi, dia sadar bahwa harus membiarkan Gala dan Nasywa bicara berdua. Dia memilih meja yang bersebelahan, tetapi tidak berusaha menguping pembicaraan. Sebelum berangkat bersama Gala tadi, Aydin sudah wanti-wanti kepadanya untuk menjaga kelakuan. Jangan sampai orang lain menganggap Aydin tidak mendidik isterinya. Jadilah Sarah duduk dengan manis di sana, tidak menguping sedikit pun.

Gala tidak ingin berlama-lama. Dia hanya ingin memastikan bahwa Nasywa bersungguh-sungguh ingin menikah dengannya. Jawaban Nasywa yang tenang dan pasti membuat Gala yakin. Dia bisa mengandalkan Nasywa menjaga pernikahan mereka ke depannya.

Perihal pernikahan, Gala dan Nasywa ingin dilangsungkan dalam jangka waktu dekat. Orang tua Gala menyampaikan keinginannya jika Gala ingin menikah dengan sederhana. Cukup keluarga dan orang-orang dekat mereka saja yang hadir. Nasywa tidak keberatan. Ia menerima syarat dari Gala. Nasywa mengerti dengan kondisi laki-laki itu. Gala belum sepenuhnya bisa menggantikan posisi Dila dengan Nasywa. Meski demikian, Nasywa tetap senang begitu tahu Gala menyetujui proposalnya.

Nasywa juga tidak menyangka jika keinginannya dituruti oleh orang tuanya. Seingat Nasywa, terakhir kali keduanya menentang dengan keras keinginan Nasywa. Nasywa terkejut ketika orang tuanya menyampaikan jika Gala menerimanya dengan baik. Padahal Ia sudah tidak berharap banyak perihal perasaannya yang bisa sedikit diobati. Allah memang selalu memiliki rencananya sendiri dalam memberikan kebahagiaan kepada hambanya.

Malam itu Nasywa kembali tidak bisa tertidur. Kali ini bukan karena luka dan perasaan sesak di dada yang menjadi pengganggunya, melainkan kebahagiaan yang memuncak. Bukan main pengorbanan Nasywa selama ini. ia banyak menelan pil pahit rasa cemburu dan sakit hati melihat kebahagiaan Dila dan Gala.

Nasywa tidak bisa membohongi dirinya jika Ia pernah iri pada Dila, sebelum Ia pasrah atas hati dan takdirnya pada Allah yang Maha Kuasa. Nasywa benar-benar ingin menjadi wanita yang bisa bebas mencintai laki-laki. Namun, rupanya Allah memiliki rencana lain. Selama ini hati Nasywa tidak pernah padam oleh rasa cintanya pada Gala. Nasywa tidak menyangka jika umur pernikahan Gala dan Dila kandas oleh maut.