Unconditional Love

Bab 47 Tanah Penuh Derita

Bab 47 Tanah Penuh Derita

“Ya Allah, sungguh kami telah kufur nikmat atas nikmat yang telah Engkau berikan..” Gala tidak dapat menahan airmata yang tiba-tiba tertumpuk di pelupuk matanya. Akhirnya dia dan teman-temannya bisa melewati Arrival Hall Gedung Imigrasi dan menapakkan kakinya di tanah Palestina.

Di balik tembok jangkung perbatasan Rafah, dia dan teman-temannya menatap nanar puing-puing bangunan jauh di sana. Nyaris rata dengan tanah. Mereka menahan sesak di dada menyaksikan semua kekacauan di depan mata.

Gala berulang-ulang menarik napas, menetralisir perasaannya yang terus berkecamuk. Bukan main sedih melihat daerah pemukiman orang-orang Palestina porak-poranda setelah dibombardir oleh pihak lawan. Yang tersisa hanya reruntuhan dan puing-puing bangunan. Tidak dapat dipakai lagi.

Tidak ingin membuang waktu mereka segera bekerja, berkordinasi dengan tim dari Indonesia, maupun lembaga kemanusiaan internasional lainnya. Gala dapat merasakan atmosfer berbeda ketika Ia turun ke kamp pengungsian dan bertemu warga di Palestina. Benar-benar berbeda dengan pertemuan mereka sebelumnya dengan korban bencana alam.

Tidak ada ego sentris di sini, tidak ada politik, tidak ada yang mempermasalahkan perbedaan agama. Semua bekerjasama demi membantu rakyat Palestina. Kemanusiaanlah yang menyatukan mereka. Saling bahu membahu membangun kehidupan yang layak untuk warga Palestina.

Meski dikatakan kondisi Palestina cukup kondusif untuk saat ini namun, suara tembakan masih terdengar sesekali. Kondisi siaga para tenaga medis dan relawan kesehatan tidak kendor, mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang ada. Kondisi genting bisa terjadi kapan saja, mereka harus selalu siap menjadi garda terdepan penolong pasien-pasien korban keganasan tentara Israel.

Di sana, Aydin memperkenalkan Gala dan Hayyan pada reporter Meg, rupanya wanita itu masih meliput di Palestina dan bisa bertemu dengan Aydin lagi. Dengan cepat Meg memberi mereka informasi, dan memperkenalkan mereka dengan tim kemanusiaan internasional, terutama yang berasal dari Eropa. Mereka membicarakan banyak hal mengenai kondisi Palestina beberapa bulan terakhir. Mengalami krisis air bersih dan obat-obatan. Pasokan bantuan benar-benar terbatas oleh blokade yang masih terus dilakukan oleh Israel.