Unconditional Love

Bab 98 Diguncang Berita

Bab 98 Diguncang Berita

Belum juga Qiandra mendudukkan dirinya di sofa ketika ponselnya terus berbunyi nyaring. Qiandra segera mengacak tasnya, nama Paman Aydin muncul di sana lengkap dengan fotonya bersama sang istri, Sarah. Qiandra mengerutkan kening, tumben sekali Pamannya menelepon padanya.

“Fatih, Paman Aydin nelfon kamu tidak?” tanya Qiandra. Fatih menggeleng, tatapnya beralih pada Rayyan yang sedang berbaring terlentang di lantai. Laki-laki itu sudah tertidur hanya dalam waktu beberapa menit saja.

“Ayah nelpon?” Qiandra menegang. Akhirnya ia memutuskan mengangkat panggilan tersebut. Qiandra berkerut keningnya ketik Aydin terdengar berbasa-basi padanya. Menanyakan kabar Qiandra dan suami serta adik-adiknya. Padahal Arumi dan Rayyan terus mengirim foto dan vidio mereka di grup keluarga besar.

“Ada apa Paman?” Qiandra semakin penasaran ketika Aydin terdiam cukup lama. Ada suara isakan tangis yang terdengar samar-samat. “Ada apa sih kak? Kok tegang begitu.” Fatih mendekat. Menit selanjutnya ponsel Qiandra jatuh ke lantai. Fatih tidak berhasil menyelamatkannya, ia lebih memilih menyanggah badan Qiandra yang tiba-tiba melemas. Beruntung ada Fatih, jika tidak bisa saja perempuan itu jatuh dan menghantam ujung meja.

“Apa yang terjadi?” Zhafran cepat-cepat mendekati istrinya. Fatih memungut ponsel Qiandra yang sudah mati dan pecah. Melihat kondisi ponsel tersebut yang mengenaskan, Fatih segera merogoh sakunya, nama Ayahnya muncul di sana. Tanpa menunggu lama, Fatih segera menjawabnya, ia penasaran dengan apa yang terjadi.

“Fatih. Qiandra kenapa?” suara Ayahnya di sana. Salah. Harusnya Fatih yang bertanya ada apa di Indonesia sampai sepupunya nyaris pingsan. “Ada apa Ayah, Kak Qia nyaris pingsan setelah mendapat telepon dari Ayah. Ponselnya bahkan mengenaskan di lantai,” oceh Fatih. Terdengar helaan napas di ujung line. Fatih berusaha menajamkan pendengarannya. Arumi dan Aisha yang baru saja keluar dari kamar segera mendekat, menodong Zhafran dengan berbagai pertanyaan.

“Apakah kak Qia beneran hamil. Yang Rumi tahu, tanda-tanda orang hamil gak boleh terlalu capek.” Arumi berharap apa yang ada di otaknya sekarang benar-benar terjadi. “Kaka Zhafran, ayo katakan. Rumi ingin keponakan laki-laki,” dengan wajah pias, Fatih mendekat ke arah Arumi. Menarik sepupunya lalu memeluknya erat.